Resensi: The Heavenly Couple



Judul Buku : The Heavenly Couple
Penulis : Manije Armin
Penerbit : Pustaka IIMaN
Jenis Buku : Based On True Story
Pembaca : Semua Kalangan
Nilai : (3/4)

Halo Sobat KBB,

“Seorang gadis masuk rumah suaminya dengan pakaian pengantin dan harus keluar dari sana dengan kain kafan.” Itulah kata-kata ibunya yang selalu diingat Malihe bahkan ketika ia berikrar pada hari pernikahannya. Dan kemudian kesetian dan kesabarannya sebagai seorang istri benar-benar teruji. Majid, suaminya, adalah laki-laki yang melibatkan dirinya dengan kelompok ekstrem sebelum menikah. Meski telah bertobat, imbasnya Majid kini sulit mencari pekerjaan karena telah dicap berbahaya. Situasi panas pasca perang (revolusi) memang tak kenal ampun terhadap orang yang terlanjur dicap ekstrem meski orang itu telah lepas tangan. Maka berangkatlah Majid, Malihe, serta kedua orang anak mereka yaitu Mahdi dan Shaba ke perbatasan Iran, untuk menyelundup ke Turki dan kemudian terbang ke luar negeri demi mendapatkan hidup yang tenang dan terlepas dari bayang-bayang masa lalu Majid yang kelam. Sesampai di Turki, tinggallah mereka dalam sebuah penginapan milik Nyonya Golin dan Akram Afandi, seorang nyonya baik hati dan tuan yang temperamental. Mereka mempekerjakan Majid yang pandai melukis, untuk menjual lukisan wajah para tamu-tamu yang datang dan hasil dibagi dua dengan Akram Afandi. Sementara hampir setiap hari Malihe pergi ke kantor imigrasi untuk mendapatkan Visa agar mereka bisa pergi ke luar negeri, namun tak pernah berhasil. Keberadaan Majid tercium oleh polisi. Majid pun kabur dengan dibawa pergi oleh seorang pelayan restoran yang bekerja di resto milik Akram Afandi bernama Hanif. Majid di bawa ke sebuah tempat tertutup yang di sebut Taman Surga, tempat yang sangat indah. Ia ditempatkan dalam satu tempat berisikan orang-orang yang kesemuanya berpakaian hijau dan tak pernah bicara, karena untuk mereka, bicara adalah aib. Mereka semua adalah seniman yang bertugas melukis Kurshid Pasha, yaitu seorang yang menganggap dirinya setengah dewa. Kuas-kuas dan kanvas mahal tersedia. Namun Majid bingung, tempat apakah itu? Sementara Malihe dan anak-anaknya, terus mencari Majid yang tak jua diketemukan. Hanif menemukan mereka dan langsung membawa mereka ke hotel Pasha, yaitu hotel mewah bagi orang-orang kaya. Hanif bilang, yang membiayai mereka adalah Majid. Namun setiap kali Malihe menanyakan Majid, yang keluar sebagai jawaban adalah, bahwa Majid sedang bekerja dan mereka baru bisa bertemu dengan Majid setelah Majid merampungkam kerjanya. Suatu kali, Malihe minta dengan sangat kepada Hanif agar dirinya dipertemukan dengan Majid. Maka Hanif pun mengatur pertemuan itu di depan masjid Aya Sofia. Dalam pertemuan itu, Malihe bertemu dengan Majid yang telah berubah drastis. Sinar di mata Majid meredup dan berat tubuhnya terlihat menyusut banyak. Malihe merasa ada sesuatu yang tak beres dengan suaminya. Namun Malihe tak tahu apa dan tak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi ketika Majid menyuruh Malihe pulang ke Iran lewat goresan kata-kata yang diukir melalui ujung sepatunya waktu itu. Malihe bimbang. Akankah ia meninggalkan Majid sebatang kara dan kembali menyusuri Iran bersama Mahdi dan Shaba? Karena sebagai istri yang berbakti, hal itu bertentangan dengan hati nuraninya untuk selalu mendampingi sang suami dalam suka maupun duka. Akankah mereka berkumpul kembali?
Manije Armin mengemas cerita ini secara ringkas dan cukup menarik. Namun ada satu hal yang saya rasa menjadi kekurangan. Yaitu minimnya deskripsi, sehingga pembaca tidak mendapat gambaran secara utuh perihal setting atau latar belakang dan budaya dari novel ini. Padahal novel ini berlatarkan negeri Iran dan Turki yang sudah tentu sangat berbeda dengan Indonesia. Mungkin hal ini pulalah yang menjadikan novel ini tak terlalu tebal. Selebihnya, novel ini cukup menarik untuk dibaca.

Salam Inspirasi,
-Maryam Diyah-
Koordinator Divisi Resensi

Resensi: Best Seller Sejak Cetakan Pertama


Judul : Best Seller Sejak Cetakan Pertama
Penulis : Agus M. Irkham
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Genre : Buku Literasi
Pembaca : Para praktisi dunia perbukuan Indonesia
Nilai : 5/5 (Versi Komunitas Baca Buku)


Buku apa yang menjelaskan seluk beluk dunia perbukuan Indonesia? Pasti banyak orang yang akan menggelengkan kepala ketika kita membahas buku yang menjelaskan dunia perbukuan Indonesia. Tidak heran banyak dari kita tidak terlalu tahu perkembangan buku Indonesia, karena memang kita minim pengetahuan buku.

Lahir dari kegetiran inilah penulis akhirnya melahirkan buku ini. Sebuah buku yang akan membantuk kita mengenal lebih jauh dunia perbukuan Indonesia. Buku ini adalah buku literasi tentang bagaimana seseorang menjadi penulis best seller, buku-buku apa saja yang menjadi best seller dan bagaimana perkembangan dunia literasi di Indonesia.

Buku ini terdiri dari tiga bagian penting tentang dunia literasi di Indonesia. Bagian pertama “Dunia Kecil yang Begitu Indah” membahas banyak hal tentang perkembangan perbukuan Indonesia dari dulu hingga sekarang. Penulis mencoba mengeksplorasi lebih lanjut dunia perbukuan secara detil.

Dari bagian satu kita akan menemukan fakta-fakta yang mengejutkan dari sebuah buku. Misalnya saja tentang buku best seller di Indonesia. Kalau anda berpikir buku best seller di Indonesia adalah buku Laskar Pelangi atau Ayat-Ayat Cinta maka semua itu adalah salah. Dari hasil data yang ditemukannya di lapangan, buku yang terlaris di Indonesia salah satunya adalah Kamus Bahasa Inggris (Indonesia-Inggris) karya John M.Echlos dan Hasan Sadily.

Terbukti setiap tahun buku kamus ini selalu laris di pasaran dan mengalami cetak ulang pada setiap tahunnya. Bayangkan buku yang sudah dibuat tahun 1975 ini masih saja beredar di pasaran saat ini. Bahkan bajakannyapun laris terjual setiap tahunnya di Kwitang.

Ada lagi buku yang tidak pernah mengalami kesurutan dalam penjualan, yaitu buku-buku doa dan tuntunan sholat. Penerbitnya hingga saat ini selalu menerbitkan buku-buku tersebut, bahkan ada beberapa penerbit yang sudah puluhan tahun tidak pernah mengganti cover bukunya hingga saat ini. Tidak percaya, tengok saja buku-buku tuntunan sholat yang ada di masjid-masjid, kita pasti akan tercengang menemukan beberapa buku yang terlihat di masjid pernah kita beli pada saat kita kecil.

Nah itu adalah sebagian kecil dari bagian I, sekarang bagaimana dengan bagian II? Bagian dua diberi head line oleh penulis mata baru komunitas literasi. Nah pada bagian ini kita akan mengetahui beberapa komunitas literasi yang ada di Indonesia beserta sepak terjangnya dari yang bermula kecil-kecilan hingga sekarang menjadi besar, tidak lupa suka dukanya membangun komunitas. Nah bagian inilah yang menginspirasi saya membuat Komunitas Baca Buku seperti yang sobat nikmati saat ini.

Itulah isi dari bagian kedua, sekarang bagaimana dengan bagian terakhir? Bagian terakhir atau penutup adalah bagian yang tidak kalah penting untuk kita lebih mengetahui lebih dalam perbukuan Indonesia. Headline pada bagian III-pun dibuat seram, dengan mengambil judul “Bahaya Bangsa Tanpa Minat Baca Buku.” Dalam bab ini kita akan menemukan fakta-fakta menarik tentang seberapa besar minat baca di Indonesia. Hmm sobat KBB pasti sudah tahu bab ini, karena memang minat baca buku Indonesia tidak sebaik bila di bandingkan negara lain. Buktinya anggota KBB hanya seribuan orang, hehehe…. Padahal bila dibandingkan komunitas lain semisal musik jumlahnya bisa sampai diatas lima ribuan, bukan begitu sobat?

***
Kesimpulannya buku ini adalah buku yang wajib, kudu dibaca oleh kita sebagai panduan untuk melihat dunia literasi di Indonesia. Dan saya tidak akan banyak berkomentar dengan buku ini karena memang isinya sangat baik dan gaya bahasanya menarik. Jadi sobat KBB sepertinya akan sangat sayang bila harus melewatkan buku ini….
***
Tentang penulis, hmmm…. Penulis adalah salah satu orang penting dalam dunia literasi di Indonesia, karena memang sudah beragam buku dihasilkan oleh tangan dinginnya. Ia adalah Agus M. Irkham atau biasa dipanggil Gus Ir. Ia adalah seorang penulis yang mengikuti beragam Komunitas khususnya Komunitas Literasi dari mulai FLP sampai dengan KOKKANG.

Dengan beragam pengalaman inilah ia mengetahui dengan jelas seluk beluk dunia literasi di Indonesia, alhasil buku ini bisa kita nikmati sebagai sarapan besar untuk mengetahui dunia literasi di Indonesia.

Nah bagi yang mau berkenalan gak usah khawatir, saya punya linknya untuk sobat KBB, jadi kalau mau kenal lebih dekat bisa langsung ngobrol dengan beliau. Linknya bisa dilihat dibawah ya….


Ok sekian resensi buku kali ini….

Salam Inspirasi


Irawan Senda
Founder and CEO Komunitas Baca Buku, Author Living Like a Puzzle, Founder and Owner Business Speed and Ghost Writer.

Resensi: 168 Jam Dalam Sandera


Judul Buku : 168 Jam Dalam Sandera
Penulis : Meutya Hafid
Penerbit : Hikmah
Jenis Buku : Memoar
Pembaca : Semua Kalangan
Nilai : (4/5) versi KBB



Halo Sobat KBB,

Anda tentunya masih ingat sebuah peristiwa pada awal tahun 2005, pasca terjadinya Tsunami Aceh. Negeri kita dibuat gempar oleh sebuah peristiwa penculikan yang dialami oleh reporter kita dari Metro TV yang bernama Meutya Hafid yang di sandera di Irak karena dicurigai telah menjadi mata-mata pasukan koalisi Amerika yang kala itu memang memicu kerusuhan dalam pemilu pertama di Irak setelah jatuhnya kekuasaan Saddam Hussein. Buku ini menceritakan pengalaman sang tersandera yaitu Meutya Hafid bersama rekannya Budiyono selama dalam penyanderaan di Irak.

Cerita dimulai sekembalinya Meutya dari Aceh, meliput bencana Tsunami. Ia bersama rekannya Budiyono langsung ditugaskan meliput suasana pemilu pertama Irak setelah jatuhnya kekuasaan Saddam Hussein. Negeri Irak yang kala itu benar-benar menyedihkan, menjadi medan yang sangat berat untuk Meutya dan Budiyono dalam menjalankan tugas mereka. Bagdad yang hancur, berantakan, dan mencekam. Jalan-jalan dipenuhi tank-tank militer dan hampir di setiap sudut dijumpai tentara dengan senjata siap meletus. Namun, setelah tugas yang penuh masa penantian panjang dan berliku itu terlaksana dengan baik dan mereka siap untuk kembali ke tanah air, tiba-tiba mereka mesti kembali masuk ke Irak untuk meliput peringatan Asyura di Karbala. Meski sempat didera keraguan, namun akhirnya mereka menyanggupi. Dalam perjalanan mereka yang kedua itulah, peristiwa penculikan itu terjadi.

Ketika mobil mereka berhenti pada sebuah pom bensin, beberapa orang pasukan Mujahidin dengan wajah tertutup Kafiyeh, menyergap mereka dan kemudian membawa mobil mereka termasuk sang sopir KBRI yang mereka sewa, Ibrahim. Mereka dibawa ke sebuah gurun, dimana hanya ada padang pasir yang terhampar luas sejauh mata memandang. Maka tak ada jalan lain bagi Meutya dan Budi, kecuali mengikuti para penyandera. Tak mungkin mereka melarikan diri kecuali ingin mati konyol.
Mereka pun dibawa dalam sebuah gua kecil yang terdapat di gurun.
Hampir setiap malam, bunyi pesawat berseliweran di atas mereka benar-benar menciptakan ketegangan, karena ternyata, gua yang mereka diami, adalah wilayah antara Ramadi dan Fallujah, zona pertempuran antara gerilyawan Irak dan tentara koalisi. Dan itu berarti, jika pertempuran pecah, gua itu akan jadi sasaran empuk berondongan peluru dari kedua sisi berlawanan.

Meski begitu, perlakuan yang mereka terima selama dalam masa penyanderaan, sangat jauh dari kata mengerikan atau sadis. Bersama para penyandera yang ternyata sangat bersahabat, yang bernama Ahmad dan Muhammad, dan Ibrahim sang sopir sekaligus penerjemah mereka, mereka bagaikan sahabat. Saling menceritakan dan berbagi pengalaman seputar diri, pekerjaan dan bahkan keluarga, membuat mereka merasa akrab satu sama lain. Kebersamaan mereka dari hari ke hari nyatanya telah menciptakan suatu ikatan batin diantara mereka. Selama beberapa hari itu, mereka pun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh rasa hormat layaknya tamu. Makanan-makanan dan air setiap hari diantar dalam jumlah yang cukup dan menu-menu yang menggiurkan pula, mesti para Mujahidin lain yang bertugas mengantar makanan-makanan itu mempertaruhkan nyawanya dalam perjalanan menuju gua. Sungguh pelayanan yang mengharukan.

Pembebasan yang berliku-liku pun mesti dilewati dengan penuh kesabaran dan ketegangan. Banyak sekali peristiwa yang rasanya membuat nyawa mereka serasa sudah diujung tanduk, namun secara mengejutkan, ternyata mereka bisa bertahan melewati itu semua.

Buku ini benar-benar memberi pelajaran pada kita, bahwa setiap pekerjaan, memang mempunyai resiko yang kadang memang menantang. Namun kita pun harus mengukur seberapa besar kesiapan kita, dan sampai dimana seharusnya kita melangkah atau berhenti ketika telah diambang batas kemampuan kita. Bukannya maju membabi buta tanpa mengukur kemampuan diri atau hanya bermodalkan nekat. Meutya dan rekannya Budiyono, nampaknya telah mengambil pelajaran yang teramat berharga dimana mereka dipaksa melihat batas dimana mereka harus berhenti, atau terus maju.
Buku ini pun mengajak kita untuk merenungi, pada saat manusia berada dalam keputusasaan dan merasa tak akan melihat matahari esok pagi, ternyata jika Tuhan mempunyai rencana lain, maka apapun menjadi mungkin. Dan hanya atas kekuasaannya, Meutya dan Budiyono, bisa keluar dengan selamat dan sehat walafiat dari Irak yang penuh ancaman.
Tidak hanya penuh dengan ketegangan pada setiap halamannya, buku ini pun kadang mengajak kita tersenyum, tertawa, dan bahkan menitikkan airmata.


Salam Inspirasi.

-Maryam Diyah-
Koordinator Divisi Resensi

Resensi : It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be


Judul Buku : It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be
Penulis : Paul Arden
Penerbit : Phaidon
Genre : Non Fiction
Pembaca : Kalangan Bisnis dan Pelaku Advertising Nilai : 5/5 (Versi Komunitas Baca Buku)



“Fiuh, lama tidak mereview karena sakit, kali ini saya akan mereview buku yang sangat bagus dan pantas untuk sobat KBB baca.”

Buku It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be adalah buku pertama dari Paul Arden. Buku ke duanya Whatever You Think, Think The Opposite sudah pernah kita bahas di discussion board KBB.

Buku It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be menceritakan tentang buah pemikiran Arden tentang ide dalam bekerja, hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan ide-ide cemerlang apa saja yang harus kita tampilkan. Tidak hanya itu ia menggunakan pola-pola terbalik untuk menciptakan sebuah pemikiran dan ide tentang bagaimana kita menjalankan sebuah pekerjaan.

Salah satu kata-kata yang saya suka dalam buku ini adalah “It’s Right To Be Wrong.” Yah dalam hidup ini kita tidak mungkin tidak melakukan kesalahan, justru dengan semakin banyak kesalahan kita jadi tahu mana yang benar. Jadi tidak ada salahnya melakukan sesuatu yang salah. Bukan begitu?....

Yang unik dari buku ini tentu saja foto-foto yang tersaji dan terpampang di dalamnya. Buku ini di desain dengan kekuatan art yang tinggi, yup setiap pesan akan terkoneksikan dengan foto ataupun gambar, sehingga buku ini bisa dibilang penuh dengan kekuatan foto.

Di Indonesia versi terjemahannya belum ada, namun untuk buku keduanya yang berjudul Whatever You Think, Think The Opposite sudah diedarkan oleh Essensi (lini buku dari Erlangga Group), meski sayangnya buku-bukunya sudah mulai sulit didapatkan.

***

Actually, buku ini sangat bagus dan saya rekomendasikan buat sobat KBB. Meski kalau membeli buku harus pesan lewat Amazon.com dulu, namun isi dari buku ini sangat tidak mengecewakan. Harga bukunyapun hanya $ 8.95 saja, so gak mahal lah untuk sebuah buku yang berkualitas dan layak menjadi koleksi.

Ssst sebagai gambaran buku ini sudah mengalami delapan kali cetakan sejak terbit tahun 2003 lho, dan itu untuk wilayah America saja. Sebagai gambaran di America sekali cetak buku akan dicetak sebanyak 100 ribu copy, artinya sudah delapan ratus ribu copy buku terjual di America saja, nck…nck… menarik bukan?

Salam Inspirasi


Irawan Senda
Founder dan Chairman Komunitas Baca Buku
Penulis Living Like a Puzzle

Resensi : Negeri Van Oranje


Judul Buku : Negeri Van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana

Pembaca : Semua Kalangan

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Bentang Pustaka
Penilaian : 4/5 (versi KBB)

Ini salah satu buku yang baru selesai aku baca minggu lalu. Novel ini cocok menjadi panduan bagi siapa saja yang ingin mengenyam pendidikan di negeri Kincir Angin, Belanda.

Novel ini mengisahkan persahabatan dan liku-liku kehidupan lima mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Mereka adalah Iskandar alias Banjar asal Kalimantan Selatan, Firdaus Muthoyib anak Asli Betawi, Wicak Adi Gumelar yang seorang pegawai di salah satu LSM berasal dari Banten, Garibaldi Utama Anugrah Atmaja alias Geri, makhluk ganteng yang bisa menurunkan pasaran cowok Indonesia di Belanda dan terakhir Anandita Lintang Persada, seorang perempuan tinggi semampai yang berwajah cantik.

Mereka berlima di pertemukan di stasiun kereta Amersfort pada saat terjebak badai yang membuat semua perjalanan kereta terhenti selama beberapa jam. Diawali oleh rokok kretek dan diselingi dengan curhat panjang awal mula mereka terdampar di negeri Kincir Angin ini. Sejak saat itu mereka mendeklarasikan diri mereka sebagai Aagaban (Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands).

Selain menceritakan bagaimana kegigihan Banjar mencari pekerjaan demi mengumpulkan beberapa Euro untuk bertahan hidup demi menjawab tantangan dari Goz sahabatnya, Lintang yang menyambi sebagai guru tari di KBRI setelah mendapat tawaran langsung dari Dubes Indonesia untuk Belanda dan terobsesi untuk menikah dengan Bule, Geri yang tidak pernah bermasalah dalam hal keuangan tetapi mempunyai masalah dalam perjalanan asmara nya yang tidak lazim, Daus yang selalu gagal untuk mencoba hal-hal yang berbau dosa serta Wicak yang sukses membawa tesisnya menjadi salah satu dari 10 nominasi tesis terbaik. Novel ini juga turut menyertakan beberapa tips dan trik ala Aagaban untuk bertahan hidup dan info2 menarik yg bisa di dapat di Belanda. Mulai dari kiat merokok, seputar belanja, bersosialisasi, kegiatan2 yg bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang, event2 menarik, kiat seputar sepeda dan pernak perniknya, kiat jitu jadi pelajar teladan, kiat menghadapi birokrasi, tips mencari rumah atau kamar di Belanda, sampai dengan tips ber backpacking keliling Eropa.

Satu cerita dengan empat penulis yang menyajikan gaya penulisan yang sama dan bahasa yang mudah dicerna, menjadikan novel ini layak di baca.
Launching dan diskusi novel ini telah dilaksanakan pada tanggal 1 Mei kemarin bertempat di FAB cafe toko buku Gramedia Grand Indonesia, Jakarta dengan menghadirkan dua dari empat penulisnya, yaitu Wahyuningrat dan Adept Widiarsa.


Salam Inspirasi


Widyanti Aguslina


Resensi : Rage Of Angels (Malaikat Keadilan)


Judul Buku: Rage Of Angels (Malaikat Keadilan) Penulis: Sidney Sheldon Penerbit: Gramedia Kategori: Novel Perjuangan dan Roman Pembaca: Dewasa Nilai: (4/5)

Halo Sobat KBB,
Senang sekali hari ini saya dapat meresensikan sebuah buku lagi untuk para anda semua. Dalam resensi kali ini, saya akan meresensikan sebuah buku karya masterpiece asal Chicago, yaitu Sidney Sheldon.

Dalam bukunya kali ini, diceritakan tentang seorang wanita bernama Jeniffer Parker, ia adalah lulusan sebuah fakultas Hukum ternama, seorang wanita muda dengan lika-liku hidup dalam menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang pengacara yang berhasil.
Dimulai dengan menjadi kurir antar surat pada sebuah kantor pengacara, setipa hari ia berkeliling dibawah siraman terik dan hujan. Hingga akhirnya Jennifer menemukan sebuah gedung usang yang berfungsi sebagai kantor pengacara. Otto Wenzel dan Ken Bailey, dua orang detektif yang menghuni kantor itu, ternyata sedang membutuhkan partner kerja. Akhirnya, Jennifer pun berkongsi dengan mereka. Bertempat dalam kantor yang bobrok itu, Jennifer selaku pengacara, dan dua orang rekannya, yaitu Otto Wenzel dan Ken Bailey, sedikit demi sedikit dapat menarik beberapa orang dengan kasus-kasus mereka yang beragam. Hingga akhirnya nama Jennifer Parker mulai dikenal masyarakat luas karena lidah dinginnya dalam membela klien.

Karir Jennifer pun terus menanjak. Jeniffer berhasil menjadi pengacara wanita paling ternama. Seiring dengan itu, kisah cintanya dengan seorang pengacara beristri lulusan Harvard University bernama Adam Warner pun mulai berkembang. Namun sayang, Adam Warner yang memang hendak menceraikan istrinya, telah dicalonkan untuk menjadi Presiden Amerika Serikat sehingga kandaslah cinta mereka. Adam bersama istrinya akhirnya pindah ke gedung putih.

Sementara itu, Michael Moretti yang merupakan menantu sekaligus tangan kanan Antonio Granelli, pemimpin dari salah satu keluarga-keluarga mafia yang terbesar di kawasan sebelah timur, mulai menaruh perhatian pada Jennifer yang menurutnya adalah wanita yang mempunyai pendirian yang kuat dan setara dengannya. Jeniffer pun di daulat menjadi pengacara pribadi dalam kawanan mafia itu menggantikan Thomas Colfax, meskipun Antonio Granelli tak mendukung. Michael Moretti yang kejam, bengis dan tak terampunkan, begitu memuja Jennifer. Hingga akhirnya suatu hari ia mengetahui, bahwa Jennifer dan Adam Warner, musuh bebuyutannya, yaitu presiden yang selalu berusaha mengepung para mafia kawanannya, pernah menjalin hubungan bahkan telah menghasilkan seorang anak laki-laki bernama Joshua. Maka semakin membuncahlah kebenciannya pada Adam Warner. Usaha-usaha pembunuhan dan pengepungan pun dilakukan oleh Michaell Moretti yang berusaha menjebak Adam Warner agar masuk perangkapnya. Sebaliknya, Adam Warner pun telah lama memburu calon pemimpin mafia itu. Dan bagaimanakah nasib Jennifer selanjutnya ketika dua orang laki-laki yang berarti dalam hidupnya saling berseteru? Bagaimana dengan karir dan kehidupan Jennifer setelah ia hampir kehilangan semuanya, termasuk anak yang disayanginya?

Buku ini benar-benar menyuguhkan cerita yang dikemas dalam plot yang menarik, setiap halamannya membuat para pembaca semakin penasaran. Intrik-intriknya begitu memukau, dan dari segi penceritaannya pun membuktikan, kalau Sidney Sheldon, adalah pengarang kelas dunia.

Buku ini juga yang menginspirasi saya ketika dulu saya akhirnya memasuki fakultas hukum. Jennifer Parker telah memberi gambaran pada saya bagaiman seorang wanita seharusnya berjuang gigih dalam menggapai cita-citanya. Jennifer Parker pun telah membuktikan bahwa ia seorang wanita yang tangguh meskipun kadang kesalahan tak luput dari dirinya.


Salam inspirasi,

Maryam Diyah
Koodinator Divisi Resensi

Resensi Buku : Belajar Goblok.


Judul Buku : Belajar Goblok
Penulis : Doddi Mawardi dan Bob Sadino
Penerbit : Kintamani Publishing
Genre : Buku Bisnis
Pembaca : Entrepreneur dan Praktisi Bisnis
Nilai : 5/5

Buku entrepreneur apa yang menginspirasi banyak orang untuk mulai berbisnis? Hmm kalau ada yang bertanya seperti itu kepada saya, maka saya akan merekomendasikan buku Belajar Goblok pada anda.
Buku ini adalah buku yang ditulis mentor saya Dodi Mawardi. Beliau menulis tentang suka duka Bob Sadino membangun bisnisnya dari O besar alias tidak punya apa-apa hingga menjadi sebesar ini.
Titik balik Bob Sadino menjalankan bisnis ternyata dimulai saat mobil mewah yang ia jadikan sewaan mengalami tabrakan yang cukup parah. Dari sini seorang Bob Sadino mengalami tekanan yang sangat hebat, karena situasi keuangannya mulai terganggu.
Untungnya ia memiliki teman yang tahu cara memproduksi telur ayam negeri. Hingga akhirnya Bob-pun diajarkan cara memproduksi ayam negeri.
Setelah ia tahu cara memproduksi ayam negeri kemudian mulailah ia melakukan penjualan telur ayam negeri ke daerah rumah tempat tinggalnya (Kemang). Caranya dengan menawarkan door to door. Karena budaya makan telur ayam negeri belum familiar di kalangan warga pribumi, maka telur ayam negeri yang Bob Sadino budidayakan hanya dijual pada kalangan ekpaktriat asing.
Kala itu mereka sangat senang dengan telur yang dijual oleh Bob Sadino dan telur yang dijualpun menjadi sangat terkenal saat itu. Apa rahasianya? Rahasianya terletak pada potongan bunga anggrek yang diberikan pada pelanggan telur Bob Sadino.
Hmm pada saat itu Bab Sadino menaruh Anggrek pada setiap pembelian satu keranjang telur ayam negeri. Mereka (para ekspatriat asing) menganggap bunga Anggrek adalah hadiah yang sangat mahal untuk mereka, karena memang di negara asal mereka Anggrek sulit tumbuh dan berkembang, kalaupun berkembang harganyapun cukup mahal.
Kala itu Bob hanya tertawa saja, karena bagi Bob bunga Anggrek yang diberikan sebagai hadiah mudah didapatkan dimana-mana (kebetulan di daerah Kemang saat itu tumbuh banyak tanaman Anggrek) sehingga ia dengan leluasa menjadikan Anggrek sebagai hadiah yang disematkan pada setiap penjualan telurnya. Dari sini pelan tapi pasti usaha Bob berkembang pesat hingga seperti sekarang ini.
Hmm itu hanya sedikit dari cerita yang ditampilkan dalam buku ini. Ada beberapa cerita yang tidak pernah terungkap oleh orang lain tentang siapa sebenarnya Bob Sadino. Dari mulai alasan mengapa ia menggunakan celana pendek sampai filosofi hitam putih kehidupan. Mau tahu seperti apa isi bukunya, langsung aja beli di toko buku terdekat….
***
Secara keseluruhan buku ini sangat baik untuk dijadikan referensi buku entrepreneur. Karena kita akan melihat secara langsung bagaimana seorang Bob Sadino mengelola bisnisnya.
Filosofi dan tag line “Belajar Goblok” sangat pas untuk dijadikan sebuah judul buku karena memang inti dari sebuah pembelajaran adalah mengosongkan pikiran agar kita bisa belajar banyak darinya. Tinggalkan embel-embel titel dan gelar, mulailah belajar dengan pikiran yang kosong dan kita akan lebih mudah mendapatkan pengetahuan baru, itulah pesan sentral yang ada dalam buku ini.
Untuk desain cover dan lay out dalam dari buku ini bisa dikatakan sangat baik, penerbit menggunakan fotografer profesional untuk memotret momen-momen terbaik Bob Sadino. Pemotretannya dilakukan secara profesional dan baik, persis seperti buku Autobiografi Yuni Shara yang dibuat dengan baik oleh Tamara Geraldine dan Darwis Triadi. Sungguh membaca buku ini menyuguhkan permainan mata yang menarik dari setiap momen yang diabadikan. Good Job untuk tim penulis, konseptor buku, penerbit dan tentu saja Photogrpher-nya. Sukses buat semua kerja kerasnya.
***
Tentang penulis, beliau adalah salah satu mentor menulis di Indonesia, banyak karya-karya yang lahir dari tangan dinginnya yang sudah diterbitkan di penerbit-penerbit besar dari mulai Gramedia, Penebar Plus sampai Kintamani. Membaca karyanya membuat kita akan merasakan pengalaman baru membaca, karena kita akan mendapatkan feel yang berbeda dari setiap karya yang dibuatnya, baik karya sendiri maupun buah karya ketika menjadi Ghost Writer.
Mau kenalan dengan pak Dodi? Gampang klik aja link ini: http://www.facebook.com/home.php#/profile.php?id=1485272848

Salam Inspirasi


Irawan Senda
Ketua dan Pendiri Komunitas Baca Buku
Author of Living Like a Puzzle