About Gathering 3 Komunitas Baca Buku



Selamat Pagi, dan Salam Sejahtera buat Teman - Teman Komunitas Baca Buku... Selamat Menjalankan Aktifitas, Semoga berjalan lancar... (Amin)

Ya, pada hari sabtu minggu kemarin tepatnya pada tanggal 30 Mei 2009, kami segenap pengurus mengadakan Gathering ke 3 Komunitas Baca Buku yang diadakan di MP Book Point - Cipete Jakarta Selatan, dengan dihadiri oleh Teman - Teman Komunitas Baca Buku dari berbagai daerah, salah satunya adalah: Ciputat, Jakarta, Jogjakarta, Lampung, Palembang. sungguh suatu kebangaan yang luar biasa buat kami karena antusias dari Teman - Teman untuk menghadiri Gathering Komunitas Baca Buku.

dan pada kesempatan Gathering ini... kami membedah buku tentang 'Negeri Van Oranje' dengan Duta Baca Buku: Widyanti Aguslina Asal Palembang, ingin tau ceritanya seperti apa? teman - teman bisa baca resensi buku ini, dengan klik links: http://www.facebook.com/group.php?gid=50590388561#/topic.php?uid=50590388561&topic=8794

dalam Gathering ini... kami pun tidak hanya bertatap muka ataupun bedah buku, disini kami juga membahas tentang program - program yang ada di Komunitas Baca Buku, dengan tujuan agar komunitas ini dapat bermanfaat buat semua orang dan lebih khususnya buat orang-orang yang membutuhkan uluran tangan dari kami, inilah salah satu hasil dari sharing kami:

1. mensosialisasikan program Komunitas Baca Buku, Budaya Baca Buku (Satu Untuk Tiga), bisa dilihat di links ini: http://www.facebook.com/group.php?gid=50590388561#/topic.php?uid=50590388561&topic=8798

2. Penambahan Pengurus Komunitas Baca Buku (Wakil Ketua, Sekretaris dan Humas 2, Wakil Ketua Divisi Resensi), bisa dilihat di links ini: http://www.facebook.com/group.php?gid=50590388561#/topic.php?uid=50590388561&topic=9099

3. Insya Alloh tanggal 14 Juni 2009 tepatnya pada hari Minggu, kami segenap pengurus Komunitas Baca Buku, mau survey ke Ciputat untuk melihat lokasi tempat... (menindak lanjuti Program CSR).

besar harapan kami... semoga teman - teman dapat berpastipasi dalam komunitas ini dan mohon Do'anya... agar semuanya berjalan dengan lancar, tanpa hambatan dan satu halangan apapun...

sekian informasi dari kami... mohon maaf jika ada salah kata - kata dalam penulisan...


Salam Inspirasi


Wenti Zakiah
Sekretaris dan Humas 1 Komunitas Baca Buku

Resensi: Novel Galaksi Kinanthi


Judul Buku : Galaksi Kinanthi
Penulis : Tasaro
Penerbit : Salamadani
Pembaca : Semua Kalangan
Nilai : 4/5 (Versi Komunitas Baca Buku)

Perkembangan novel di Indonesia akhir-akhir ini mengalami sebuah kemajuan yang pesat. Banyak orang yang sudah melirik novel sebagai pilihan bacaan. Tidak terkecuali saya.

Nah pada minggu ini kita akan bahas Novel Galaksi Kinanthi. Novel ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Kinanthi yang memiliki tekanan hidup yang hebat dalam hidupnya. Bagaimana tidak, ia terlahir dari seorang ibu yang terkenal dengan baulawean (mitos jawa: perempuan yang setiap menikah, suaminya meninggal), masnya preman pasar dan kakak perempuanyya seorang lonthe. Dan sebagai pelengkap tekanan, bapaknya adalah seorang tukang judi.

Kondisi ini membuat kehidupan Kinanthi menjadi tidak bersahabat dengannya, karena keluarganya di jauhi oleh lingkungan sekitar. Uniknya ada satu orang yang dengan setia menjadi sahabat sekaligus teman pelipur lara. Ia adalah Ajuj, seorang anak rois (petinggi agama di kampung).
Dari sinilah konflik demi konflik terjadi ketika Kinanthi masih kecil, hingga puncak konflik yang sangat tidak lazim terjadi. Bapak dan ibu Kinanthi menjual Kinanthi dengan lima puluh kilo gram beras dengan seorang pasangan yang tinggal di Bandung. Dengan iming-iming di sekolahkan bapak dan ibunya rela melepas Kinanthi ke tangan pasangan tersebut.
Konflik tidak berhenti sampai disini, pada awalnya pasangan tersebut baik kepada Kinanthi, hingga suatu ketika ada peristiwa teman satu sekolahnya yang bernama Gesit ingin memperkosanya. Kejadian itu membuat keluarga yang mengadopsi Kinanthi salah sangka, mereka menganggap Kinanthi adalah seorang yang tidak tahu diri dan tidak bisa menjaga martabat keluarga. Alhasil penyiksaan secara psikologispun dimulai, dan Kinanthi diperlakukan seperti budak di rumah keluarga tersebut.

Belum selesai penderitaan Kinanthi, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya dijual kembali kepada penampung TKI untuk di kirim ke Arab. Dan selanjutnya penderitaan demi penderitaan sebagai TKI dimulai. Penyiksaan fisik dan psikologis seolah menjadi makanan sehari-hari TKI tersebut. Dan ia pun berpindah-pindah dari tangan majikan satu ke majikan lain, setelah ia dibawa kabur dari arab ke kuwait.

Pada satu saat ada keluarga dari Kuwait yang ingin menjadikan Kinanthi sekolah di Amerika, dan ini kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Kinanthi. Ia pun pergi ke negeri paman Sam dengan harapan baru. Namun sampai disana apa yang terjadi? Ternyata keluarga yang mengajaknya ke Amerika masih memiliki hubungan keluarga dengan salah satu majikannya di Kuwait yang ia lawan ketika akan menyiksanya.

Alhasil penderitaan demi penderitaan dimulai. Dari mulai dipukul dengan tongkat base ball, sampai dengan pemerkosaan. Sungguh sebuah kebiadaban di jelaskan dengan cukup pilu hingga akhirnya ia dapat meloloskan diri dari rumah majikannya dan ditolong oleh sepasang muslim yang baik hati.

Sampai sini semua perubahan dimulai dan Kinanthi berkembang dan tumbuh menjadi seorang profesor, namun di tengah kesuksesannya ia mengingat orang yang selalu dicintai dalam bayang dan ingatannya. Dari sinilah konflik psikologis dimulai kembali dan Kinanthi kembali ke kampung halamannya. Mampukah Kinanthi bersatu dengan Ajuj kembali, well lebih baik anda baca novelnya.

***

Novel ini sungguh luar biasa, kita diingatkan kembali bahwa tidak mudah menjadi seorang TKI, ketika ia sampai disana, ia harus mengorbankan semua hal yang ia miliki bahkan nyawa. Bisa bertahan dan melewatinya tanpa trauma adalah sebuah perjuangan yang tidak main-main. Dan di novel ini kita diajak melihat realitas psikologis Kinanthi dari sudut pandang perempuan yang menjadi TKI. Tidak hanya itu penulis juga manyajikan ketulusan cinta dua pasang insan yang menggetarkan jiwa. Sungguh saya dibuat mengharu biru ketika membacanya. Jadi ini adalah rekomendasi saya secara untuk anda baca.

***

Tentang penulis… Tasaro GK lahir di Gunung Kidul 1 September 1980. Menulis buku sejak 2005, meraih beberapa penghargaan: juara 1 lomba novel FLP 2005 untuk buku WANDU: Berhentilah menjadi pengecut (Dzikrul Hakim), Adikarya IKAPI 2006 untuk novel Di Serambi Mekkah dan yang terakhir juara Adikarya IKAPI 2007 untuk novel O, Achilles. Dan saya yakin karyanya yang terakhir ini adalah karya yang akan mendapatkan award serupa, karena penceritaan dan cara menuturkan bagus sekali. So jangan cuma baca resensinya beli dan kita diskusi juga ya….

Salam Inspirasi



Irawan Senda
Founder Komunitas Baca Buku

Resensi: Saya Bermimpi Menulis Buku


Judul Buku : Saya Bermimpi Menulis Buku
Penulis : Bambang Trim
Penerbit : KOLBU (Komunitas Lintas Buku)
Nilai : 5/5

Sudah lama saya ingin meresensikan buku ini pada anda, buku ini adalah buku yang membuat saya menjadi penulis buku dan banyak menginspirasi saya untuk menulis. Seperti judulnya “Saya Bermimpi Menulis Buku”, kita diajak menkhayal dan berkenalan lebih jauh dengan dunia perbukuan dan penulisan di Indonesia.
Terus terang buku ini menjadi jawaban bagi anda yang ingin menulis buku, karena di dalamnya berisi langkah-langkah apa saja yang harus kita lakukan sebelum menulis buku. Tidak hanya itu dalam buku ini kita bisa mendapatkan trik serta langkah dan cara menerbitkan dan membuat penerbit sendiri. Penulisnyapun bukan orang sembarangan lho. Beliau adalah pemimpin dari penerbitan yang sedang naik daun saat ini (Salamadhani) yang juga menerbitkan novel Galaksi Kinanthi.
Tidak hanya itu, di buku ini ada trik-trik menarik memotivasi diri sendiri untuk menjadi menulis. Jadi bagi sobat KBB yang masih ragu untuk menyelam dalam dunia tulis menulis, buku ini majawab semua problematika kita semua.
Ada lagi cara-cara pembuatan ISBN, cara bekerjasama dengan Distributor dan bagaimana memasarkan. Sungguh tidak rugi membaca buku ini karena buku ini adalah pelepas dahaga bagi anda yang ingin menjadi penulis.
Sungguh terlalu banyak informasi yang disajikan dalam resensi buku ini, dan saya pribadi yakin Sobat KBB sudah penasaran dengan buku. So, bergegaslah ke toko buku dan cari buku ini.

Salam Inspirasi


Irawan Senda
Founder Komunitas Baca Buku

Resensi: Ipung #1


Judul Buku : Ipung #1
Penulis : Prie GS
Penerbit : Republika
Jenis Buku : Novel motivasi pembangkit kepercayaan diri
Pembaca : Remaja
Penilaian : (4/5)

Halo sobat KBB,
Minggu ini saya ingin meresensikan sebuah buku yang bercerita tentang seorang anak bernama Ipung, yang berasal dari sebuah desa terpencil di kota Solo bernama Kepatihan. Dengan kecerdasan otaknya, anak 'wong ndeso' ini mampu mendapat kursi pada sekolah ternama di kota Semarang, yaitu SMA Budi Luhur. Dan di sinilah perjuangan dan seluk beluk kehidupan Ipung sebagai anak desa kumal dan miskin di mulai.
Berlatar belakang keluarga yang sederhana menjurus miskin, Ipung nyatanya mampul merebut perhatian seluruh murid-murid di sekolah elite-nya itu. Bahkan, Pak Bakrie, guru tergalak di sekolah pun berhasil ditaklukkannya. Sosok Ipung yang polos, misterius, bertubuh kerempeng namun tak pernah gentar terhadap apapun, membuat anak kucel itu menjadi kasak-kusuk di seantero sekolah. Belum lagi kisah cintanya dengan Paulin, gadis kaya raya tercantik di sekolah, yang menaruh hati padanya, membuat beberapa teman-temannya yang juga sama-sama mengidolakan Paulin, menjadi sangat iri. Hingga bertambahlah alasan mereka untuk 'mengerjai' Ipung. Namun tak di duga, Ipung si anak kumal dan miskin, sama sekali tak gentar, bahkan Ipung behasil membuat beberapa dari mereka mendecak kagum dengan keberanian dan keteguhan hatinya.
Dalam buku ini, kita tidak hanya disuguhi cerita anak remaja yang mengalir segar, dan kisah percintaan yang kadangkala membuat pembacanya gemas. Namun buku ini sarat berisikan tentang nilai-nilai kepercayaan diri seorang anak yang 'lain sendiri' di tengah lingkungannya yang serba 'wah'. Di tengah tekanan-tekanan dari anak-anak kaya yang justru berbalik menjadi iri dan minder padanya. Mengapa sosok Ipung dengan emblem miskinnya itu justru sangat meroket? Dan sekejap saja sudah menjadi idola di seantero sekolah.
"Soedirman itu jenderal. Soeharto juga jenderal. Keduanya dari desa. Soekarno itu presiden, Susilo Bambang Yudhoyono juga presiden. Keduanya juga dari desa. Mereka semua, asalnya dari desa. Kesimpulannya, semua orang hebat adalah wong ndeso. Karena itu, kamu jangan minder meskipun kamu wong ndeso!"
Itulah kata-kata Pamannya, Lik Wur, yang senantiasa memotivasinya.

Dari awal, Prie GS, sudah mendeskripsikan sang tokoh denagn sangat baik. Tak pernah dibilangnya bahwa Ipung itu sebenarnya anak yang tampan, atau semacamnya. Namun, tak bisa dipungkiri, membaca cerita Ipung ini, kita akan membayangkan betapa sang tokoh mempunyai hati yang bersih, percaya diri yang kuat, dan keberanian yang tiada banding. Ipung memang tampan dalam arti sebenarnya.

salam

-Maryam Diyah-

Kordinator Divisi Resensi

Resensi: Bikin kamu tergila-gila membaca


Make a Reading Habbit
Judul buku : Bikin kamu tergila – gila membaca
Penulis : Prembayun Miji Lestari
Penerbit : Book Magz , Kelompok Pro – U Media
Jenis buku : How to
Nilai : 3/5 ( versi KBB )

Halo sobat KBB,
Melalui media ini perkenankanlah saya sebagai salah satu anggota KBB ikut berpartisipasi menulis resensi buku. Mudah – mudahan bermanfaat. Pada kesempatan ini , ijinkanlah saya mengupas sedikit tentang kegiatan membaca.
Membaca berasal dari kata dasar baca yang berarti memahami arti tulisan. Membaca yang dalam bahasa Arab iqra’ dan bahasa Inggris reading , menjadi bagian penting dalam mencerdaskan manusia. Iqra’ berarti bacalah , telitilah , dalamilah , ketahuilah ciri – ciri sesuatu , bacalah alam , tanda – tanda zaman , sejarah , diri sendiri , yang tertulis dan tidak tertulis ( hlm. 21 ).
Jika begitu , apa yang sudah anda baca hari ini ? Bagi sebagian orang yang gemar membaca , bisa dengan mudah menjawab pertanyaan ini. Tapi bagi sebagian yang lain , yang jarang atau malah alergi dengan aktifitas bernama membaca , tentu akan kelimpungan mencari – cari jawaban.
Tahukah anda , berdasarkan laporan Bank Dunia No. 16369 – IND dan studi IEA ( International Association for the Evaluation of Education Achievement ) di Asia Timur menunjukkan tingkat terendah membaca anak – anak dipegang oleh negara Indonesia dengan skor 51,7. Sementara di atasnya ada Filipina ( 52,6 ) ; Thailand ( 65,1 ) ; Singapura ( 74,0 ) ; Hongkong ( 75,5 ). Kemampuan anak – anak Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah ,hanya 30 persen ( hlm.29 ).
Merunut pada uraian di atas , kita dapat melihat bahwa minat baca di kalangan masyarakat kita , terutama anak – anak , masih tergolong rendah. Kondisi ini tentu tidak boleh dibiarkan. Lantas apa yang bisa kita lakukan menghadapi fenomena ini ? Tentu saja kita harus melakukan perubahan . Mulai dari diri sendiri , dari hal – hal kecil dan lingkungan yang dekat. Ya , kita harus jadi pecinta buku. Tapi bagaimana caranya ?
Buku ini secara ringkas mengajak kita mengenal , memahami , lalu melaksanakan apa yang disebut dengan kegiatan membaca. Dengan bahasa yang santai dan mudah dimengerti , buku ini layak dijadikan buku saku untuk kegiatan membaca selanjutnya. Buku ini juga memberikan strategi – strategi jitu dan praktis agar kita bisa menjadi ‘ gila ‘ baca. Jangan khawatir ,sebab di dalam buku ini ada halaman yang disediakan untuk testing , sebagai parameter apakah kita termasuk pribadi yang gemar membaca atau sebaliknya.
Buku ini sangat direkomendasikan untuk kita – kita yang masih alergi dengan kegiatan membaca. Akhirnya , selamat membaca dan sering – seringlah bertanya : apa yang sudah saya baca hari ini ?

Resensi: Menjemput Risalah-Mu


Judul : Menjemput Risalah-Mu
Penulis : Triani Retno A.
Penerbit : Mizan
Genre : Novel Perenungan
Nilai : 3/5 (Versi Komunitas Baca Buku)

Halo sobat KBB, sudah lama sekali saya tidak memberikan resensi secara langsung. Harap di maklumi akhir-akhir ini saya disibukkan dengan beragam aktivitas yang cukup menyibukkan saya secara pribadi.

Kali ini saya akan membahas sebuah novel berjudul Menjemput Risalah-Mu. Novel ini adalah sebuah novel yang menceritakan dua kehidupan dalam dua sisi. Kehidupan sisi pertama adalah kehidupan glamoritas seorang artis bernama Larasati yang berusaha sekuat tenaga menjadi seorang artis terkenal. Hingga akhirnya Larasati dapat mencapai semua popularitas itu seperti yang ia harapkan.

Namun ketika namanya sedang naik, tiba-tiba saja foto-foto pribadi tersebar di internet. Larasatipun terbelalak melihat foto-fotonya hadir di internet, dan ia pun menjadi incaran infotainment yang ingin sekali menanyakan kebenaran foto-foto tersebut. Namanya menjadi berita utama di berbagai macam berita infotainment di televisi.

Dan salah satu infotainment yang meliput Larasati adalah Kabar Selebriti. Sebuah program infotainment tempat dimana Salsa bekerja. Salsa adalah seorang wartawati baru yang bekerja pada perusahaan tersebut. Ia adalah seorang yang sigap mencari berita kemanapun artis pergi, bahkan setiap jengkal langkah artis ia ikuti untuk mendapatkan sebuah berita. Perempuan berjilbab ini seolah tak peduli lagi harus berdesakan dengan media lain untuk mengambil posisi untuk menodongkan mike pada artis, maklum tubuh kecilnya bisa menyelip ke sana kemari.

Nah saat foto Larasati tersebar di internet, Salsa dengan sigap membututi keberadaan Larasati, hingga akhirnya ia menemukan Larasati di hotel, bersiap meninggalkan hotel tersebut bersama keluarganya. Salsa dengan sigapnya mendekati Larasati dan mengeluarkan beberapa pertanyaan, Larasati yang berusaha menghindar tidak luput dari pantauan dan kejaran mike Salsa, hingga akhirnya satu pertanyaan ditembakkan Salsa pada Larasati. Pertanyaan ini membuat Larasati terdesak dan ia dengan sigap membalas pertanyaan dengan sebuah pernyataan yang membuat Salsa menjadi termenung dan terdiam.

Pertanyaan apa yang diberikan Salsa? Dan pernyataan seperti apa yang membuat Salsa akhirnya merenungkan pekerjaan yang dilakoninya? Jawabannya ada pada buku Menjemput Risalah-Mu.

***

Nah itulah resensi novel Menjemput Risalahmu, sebuah novel ringan yang menawarkan sebuah nilai dan makna baru dari sebuah novel. Novel ini ringan dan tidak njelimet, bagi anda pembaca pemula, saya yakin tidak akan mendapatkan banyak masalah berarti. Karena dialog-dialog yang terbangun di dalamnya mudah dipahami oleh orang awam yang tidak pernah membaca novel sekalipun.

Meski begitu ada beberapa hal yang kurang diperhatikan penulis ketika menulis buku ini, yaitu pemanfaatan momentum pada setiap bab. Terkadang bab yang disajikan terlalu pendek hingga kita sebagai pembaca akan dibuat bertanya-tanya, “lho segini aja nih babnya….” Sayapun mengalami hal seperti itu ketika membaca novel ini. Sepertinya penulisnya terjebak dengan gaya penulisan nafas pendek (Cerpen), sehingga ada beberapa bab yang menurut saya tidak terlalu kuat untuk berdiri menjadi satu bab sendiri. Jadi novel ini menurut saya lagi lebih cocok dikatakan Cerpan (Cerita Panjang).

Walaupun begitu saya senang membaca novel ini karena mudah ditangkap oleh jalan pikiran pembaca secara umum. Pesan yang dibangunnya-pun cukup kuat dan pas untuk mengakhiri novel ini. Bagi saya novel ini adalah sebuah novel renungan bagi para wartawan dimanapun mereka berada wa bil khusus wartawan infotainment.
***

Tentang Penulisnya, Triani Retno atau sering dipanggil Teera lahir di Bandung, 24 Desember 1974 untuk kemudian tumbuh besar di Banda Aceh dan Medan. Ia adalah penulis lebih dari 80 cerpen yang telah di muat di majalah anak-anak dan remaja. Ia juga menulis beberapa novel seperti: Bukan Jilbab Semusim (2006), Gue Anak SMA (2006), Please Don’t Go (2006), Masih ada hati bicara (2006) dan Men Not Allowed (2007).

Prestasinya pernah menjadi pemenang harapan pada beberapa lomba penulisan novel dan pernah menjadi juara 2 pada lomba Menulis Artikel tang diselenggarakan IKAPI MENDIKBUD Kanwil Jawa Barat (1997) dan Juara I pada Lomba karya tulis ilmiah yang dilaksanakan oleh perpustakaan daerah Jawa Barat (1997). Nah bagi sobat Komunitas Baca Buku yang mau kenal lebih dekat bisa klik link ini:

Kebetulan mbak Teera-nya gabung di KBB juga lho….

Sekian resensi hari ini,
Salam inspirasi



Irawan Senda
Ketua dan Pendiri Komunitas Baca Buku
Author of Living Like a Puzzle

Resensi: Leverage Your Best Ditch The Rest.


Judul Buku : Leverage Your Best Ditch The Rest.
Penulis : Scott Blanchard dan Medeleine Homan.
Penerbit : William Morrow, an imprint of HarperCollin Publisher, Inc.
Genre : Buku coaching untuk manajemen bisnis.
Pembaca : Business Coach, Kalangan Praktisi Bisnis, Trainer, dan Konsultan Bisnis
Nilai : 5/5 (Versi Komunitas Baca Buku)


Hmmm belakangan ini ada beberapa sobat KBB yang bertanya apakah KBB hanya meresensikan novel saja? Bila ada sobat KBB yang bertanya seperti ini pastilah sobat KBB belum mengetahui dengan detil buku-buku apa saja yang sudah dibahas KBB. Pada awal berdirinya KBB, saya secara pribadi membuat berbagai macam resensi dari beberapa genre dari mulai buku bisnis, sampai buku biografi. Hanya saja memang dahulu tidak terlalu terekspose lebih lanjut karena memang dahulu anggotanya hanya sedikit.

Semakin kesini perkembangannya memang lebih banyak novel, karena saya sendiri dikelilingi oleh para penggila bacaan novel, jadi sedikit banyak meresensikan buku-buku seperti itu. Meski begitu saya tidak kuper banget soal buku bisnis karena buku referensi bisnis saya kemungkinan besar jarang diperhatikan oleh pelaku bisnis, hehehe… maklum bukunya memang jarang sekali ada di di Indonesia, seperti halnya buku yang akan kita bahas saat ini….

Buku “Leverage Your Best Ditch The Rest” adalah sebuah buku yang menawarkan tehnik mengelola karyawan dengan metode coaching. Penggagas konsep ini adalah Scott Blanchard dan Madeleine Homan. Mereka berdua adalah seorang yang sudah malang melintang membantu perusahan TOP 500 di Amerika untuk lebih maju dan besar.

Buku ini berisi sebelas bab yang akan menuntun kita menemukan cara yang tepat untuk mengelola karyawan kita. Tidak hanya itu buku ini mencoba menemukan kesalahan yang terjadi pada diri kita ketika kita menjadi seorang pemimpin atau pemilik perusahaan.

Pada dasarnya kesalahan atau kekalahan bisnis bukan berasal dari tehnik berbisnis, melainkan dari diri kita sendiri. Faktor diri kita menjadi sangat dominan karena kita adalah penentu arah kebijakan perusahaan. Sehingga bila terjadi kesalahan pada keputusan maka akan berdampak langsung pada perusahaan kita.

Melihat hal ini, Scott dan Madeleine merancang beberapa pertanyaan untuk memacu kemampuan kita dalam memanage diri sendiri, sehingga kita dapat lebih baik dalam menjalan perusahaan. Tidak hanya itu, Scoot dan Medeline-pun membeberkan maksud dari setiap pertanyaan yang diajukan. Sehingga ketika kita mengisinya kita akan paham masalah yang terjadi pada diri kita, dan dampak apa yang terjadi jika kita memiliki masalah tersebut.

Model-model pertanyaan seperti apakah yang digunakan oleh Scott dan Madeleine? Jawabannya bisa sobat KBB dapatkan dalam buku ini….
***
Itulah resensi bisnis kali ini, untuk mengomentari buku ini saya hanya bisa memberikan empat jempol untuk buku ini. Karena memang buku ini adalah buku terbaik dan panduan bagi para business coach.
Sayapun menggunakan beberapa tehnik untuk menghandel klien saya ketika bertemu dengan mereka. So, bisa dibilang ini adalah buku panduan yang sempurna untuk para coach dalam menghandel klien mereka.
***
Tentang penulis

Scott Blanchard

Kita mulai dari Scott Blanchard, hmm siapa yang tidak kenal dengan klan Blanchard? Pemilik dari The Ken Blanchard Companies ini adalah salah seorang adik dari seorang penulis buku bisnis terkenal Ken Blanchard. Bersama dengan kakaknya ia mendirikan sebuah lembaga bernama The Ken Blanchard Companies dan berhasil mencetak pengusaha-pengusaha mumpuni di USA.

Saat ini ia sibuk sebagai pembicara, trainer, dan coach untuk perusahaan-perusahan besar. Ia tinggal di gunung Bernando yang indah dan sejuk di California bersama keluarga yang penuh hangat dan cinta.

Madeleine Hofman

Madeleine Hofman adalah seorang trainer yang sangat berpengalaman dalam dunia training. Hal ini karena pengalamannya sebagai coach dan trainer selama 21 tahun. Ia adalah pelatih dari para trainer dan coach di USA.

Tidak hanya itu, ia juga menjadi seorang tokoh dibalik pembuatan sistem kurikulum di Coach University. Jadi bagi sobat KBB yang pernah mendengar nama Coach University, aktor penting di belakang suksesnya Coach University adalah Madeilene.

Karena keahlian dan kecerdasannya ia banyak menjadi tamu pembicara untuk stasiun TV di Amerika dan Inggris, ABC, NBC, CBS dan Fox News Channel.

Ok sekian resensi buku kali ini….

Salam Inspirasi


Irawan Senda
Founder and CEO Komunitas Baca Buku, Author Living Like a Puzzle, Founder and Owner Business Speed and Ghost Writer.

Resensi: Aku Terlahir 500gr Dan Buta


Judul : Aku Terlahir 500gr Dan Buta
Penulis : Miyuki Inoue
Jenis Buku : True story
Penerbit : Elex Media Komputindo
Pembaca : Semua kalangan
Nilai : (4/5)



Miyuki Inoue, bayi prematur yang divonis hanya hidup hingga dua sampai tiga hari lagi oleh sang dokter, nyatanya mampu bertahan hingga kini beranjak dewasa. Terlahir dengan berat 500gram, dengan kelima jari sebesar korek api, kepala sebesar telur, dan pinggul sebesar jari kelingking orang dewasa, membuat ibunya tak pernah bisa menahan cucuran airmata tatkala menjaganya di rumah sakit.
Ketika beberapa minggu kemudian Miyuki Inoue kecil divonis buta, hati sang ibu semakin hancur berkeping-keping. Namun wanita yang tegar itu, bersumpah akan terus berjuang agar Miyuki tetap hidup. Ia telah kehilangan laki-laki yang dicintainya ketika mengandung karena sebuah kecelakaan, dan ia tak ingin anak itu pun ikut pergi bersama ayahnya.

Buku ini menceritakan drama kehidupan antara ibu dan anak yang saling mengisi dan saling melengkapi. Bagaimana sang ibu mendidik anaknya, Miyuki, dengan sangat keras. Sehingga sang anak kadang dengan marah menjulukinya dengan sebutan ‘ibu setan’.
Bukan tanpa sengaja sang ibu berlaku seperti itu. Ia hanya ingin menempa sang anak menjadi manusia yang kuat dan tegar. Ia ingin anaknya menjadi seperti gadis normal lainnnya dan mendapat kebahagiaan.
Ketika suatu hari Miyuki belajar menaiki sepeda, sang ibu hanya mengawasi dari kejauhan. Airmatanya menetes tatkala sang anak terjatuh dengan lutut berdarah-darah. Namun tak disongsongnya Miyuki meskipun sangat ingin, melainkan dibiarkannya saja ia mengatasi itu sendiri. Hingga Miyuki berhasil menaiki kembali sepedanya dan terjatuh sebanyak 30 kali sebelum berhasil.
Pun ketika suatu hari Miyuki terjatuh dari tangga, sang ibu hanya berkata, “salah sendiri”. Bukan karena sang ibu tak peduli, justru ia ingin mendidik anaknya agar tak mengulangi kesalahan yang sama jikalau sudah merasakan bagaimana sakitnya.
Tak jarang Miyuki merasakan sakit hati oleh ucapan ibunya. Namun akhirnya Miyuki mengerti, semua yang dilakukan ibunya semata-mata karena rasa sayang sang ibu padanya. Terlebih lagi ketika suatu hari ibunya menceritakan masa lalu beliau yang kelam.

Miyuki, gadis dengan keinginan yang kuat dan penuh semangat. Kebutaan sama sekali tak menghalanginya. Apa yang ingin dikuasainya, pasti akan terus dipelajari dan dicobanya sampai berhasil, meski perlu usaha 10 kali lipat lebih sulit dan lebih lama dari orang normal.
Kini ia telah banyak meraih prestasi. Diantaranya juara mengarang tingkat nasional Jepang dengan karyanya yang berjudul Air Mata Ibu & Diriku Dalam Genggaman. Semua itu berkat kerja keras dan dukungan ibu yang mengasihinya.


Salam,

-Maryam Diyah-
Koordinator Divisi Resensi

Resensi: Fatimeh Goes To Cairo


Judul Buku: Fatimeh Goes to Cairo
Pengarang: Achoer
Penerbit: Dar! Mizan
Jenis Buku: Komedi Islami
Pembaca: semua kalangan
Nilai: (4/5)


Halo sobat KBB,

Minggu ini saya akan meresensikan sebuah buku yang agak berbeda dari biasanya.
Yaitu buku yang menceritakan sebuah kisah gokil seorang mahasiswa Kairo asal Indonesia yang bernama Arif. Suatu ketika, gadis pujaannya sewaktu di pondok pesantren dulu, yang bernama Fatimeh, kabarnya akan datang ke Kairo mengikuti rombongan adik-adik kelas sebagai salah satu angkatan baru. Arif yang memang menaruh hati pada Fatimeh, sengaja mendaftar untuk menjadi anggota panitia pendaftaran anak-anak baru. Agar bisa menjemput Fatimeh, saat di bandara. Cinta lama pun bersemi kembali. Tepatnya cinta Arif yang bersemi kembali terhadap Fatimeh, Fatimehnya sih nggak begitu.
Karena begitu cintanya ia pada Fatimeh, namun orangtuanya melarang ia untuk pacaran, maka timbullah niat dalam hatinya untuk melamar sang gadis pujaan. Berkirim suratlah ia pada orangtuanya di Indonesia(itu adalah surat terpanjang sekaligus surat terkocak yang pernah saya baca). Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, meskipun surat telah ditulis sepanjang Tembok Besar Cina, namun apa daya, sang orangtua tidak menyetujuinya untuk menikah, dengan alasan, Arif belum menyelesaikan kuliahnya. Sebagai anak yang berbakti, maka Arif pun tak bisa menentang keinginan orangtuanya.
Namun tak berapa lama kemudian, orangtuanya malah menjodohkannya dengan seorang gadis, namun sayangnya gadis itu menampiknya malah sebelum bertemu muka dengan Arif. Maka senanglah Arif, karena bisa kembali menambatkan cita dan cintanya pada Fatimeh.
Arif yang telah mendapatkan restu orangtua untuk segera menikah, melamar Fatimeh. Lamaran pun diterima, dan dimulailah kehidupan rumah tangga mereka yang banyak dihiasi dengan adegan-adegan eksyen, seperti lempar piring, lempar gayung, lempar lemari(gak tahu bener apa nggak), dan lempar-lempar yang lainnya di saat mereka saling beradu pendapat. Meski kadang sang suami banyak mengalami benjol-benjol pada jidatnya, namun kehidupan rumah tangga mereka tetap berjalan harmonis. Fatimeh, istri yang meski kadang manjanya gak ketulungan, namun bisa menerima segala kekurangan Arif yang seperti tak ada habisnya itu.

Novel ini menceritakan kehidupan mereka sebagai pasangan muda dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Bagaimana sulitnya mengatasi kesulitan demi kesulitan. Misalnya saja, kesulitan keuangan, kesulitan dalam masak-memasak, sampai masalah dimana Arif divonis infertil oleh dokter! Rumah tangga mereka pun sempat goyah. Namun Arif yang sabar, berhasil membujuk Fatimeh yang merajuk karena sang suami tak dapat memberikanya anak. Berbagai usaha dilakukan untuk memperoleh keturunan. Akankah upaya mereka membuahkan hasil?

Novel berl-setting Cairo ini rasanya cocok bagi pasangan muda yang masih labil dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Namun novel ini juga bisa menjadi obat penyembuh apabila anda sedang mengalami penyakit ‘sulit tertawa’.


salam inspirasi

-Maryam Diyah-
Koordinator divisi resensi

Resensi: The Heavenly Couple


Judul Buku : The Heavenly Couple
Penulis : Manije Armin
Penerbit : Pustaka IIMaN
Jenis Buku : Based On True Story
Pembaca : Semua Kalangan
Nilai : (3/4)

Halo Sobat KBB,

“Seorang gadis masuk rumah suaminya dengan pakaian pengantin dan harus keluar dari sana dengan kain kafan.” Itulah kata-kata ibunya yang selalu diingat Malihe bahkan ketika ia berikrar pada hari pernikahannya. Dan kemudian kesetian dan kesabarannya sebagai seorang istri benar-benar teruji. Majid, suaminya, adalah laki-laki yang melibatkan dirinya dengan kelompok ekstrem sebelum menikah. Meski telah bertobat, imbasnya Majid kini sulit mencari pekerjaan karena telah dicap berbahaya. Situasi panas pasca perang (revolusi) memang tak kenal ampun terhadap orang yang terlanjur dicap ekstrem meski orang itu telah lepas tangan. Maka berangkatlah Majid, Malihe, serta kedua orang anak mereka yaitu Mahdi dan Shaba ke perbatasan Iran, untuk menyelundup ke Turki dan kemudian terbang ke luar negeri demi mendapatkan hidup yang tenang dan terlepas dari bayang-bayang masa lalu Majid yang kelam. Sesampai di Turki, tinggallah mereka dalam sebuah penginapan milik Nyonya Golin dan Akram Afandi, seorang nyonya baik hati dan tuan yang temperamental. Mereka mempekerjakan Majid yang pandai melukis, untuk menjual lukisan wajah para tamu-tamu yang datang dan hasil dibagi dua dengan Akram Afandi. Sementara hampir setiap hari Malihe pergi ke kantor imigrasi untuk mendapatkan Visa agar mereka bisa pergi ke luar negeri, namun tak pernah berhasil. Keberadaan Majid tercium oleh polisi. Majid pun kabur dengan dibawa pergi oleh seorang pelayan restoran yang bekerja di resto milik Akram Afandi bernama Hanif. Majid di bawa ke sebuah tempat tertutup yang di sebut Taman Surga, tempat yang sangat indah. Ia ditempatkan dalam satu tempat berisikan orang-orang yang kesemuanya berpakaian hijau dan tak pernah bicara, karena untuk mereka, bicara adalah aib. Mereka semua adalah seniman yang bertugas melukis Kurshid Pasha, yaitu seorang yang menganggap dirinya setengah dewa. Kuas-kuas dan kanvas mahal tersedia. Namun Majid bingung, tempat apakah itu? Sementara Malihe dan anak-anaknya, terus mencari Majid yang tak jua diketemukan. Hanif menemukan mereka dan langsung membawa mereka ke hotel Pasha, yaitu hotel mewah bagi orang-orang kaya. Hanif bilang, yang membiayai mereka adalah Majid. Namun setiap kali Malihe menanyakan Majid, yang keluar sebagai jawaban adalah, bahwa Majid sedang bekerja dan mereka baru bisa bertemu dengan Majid setelah Majid merampungkam kerjanya. Suatu kali, Malihe minta dengan sangat kepada Hanif agar dirinya dipertemukan dengan Majid. Maka Hanif pun mengatur pertemuan itu di depan masjid Aya Sofia. Dalam pertemuan itu, Malihe bertemu dengan Majid yang telah berubah drastis. Sinar di mata Majid meredup dan berat tubuhnya terlihat menyusut banyak. Malihe merasa ada sesuatu yang tak beres dengan suaminya. Namun Malihe tak tahu apa dan tak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi ketika Majid menyuruh Malihe pulang ke Iran lewat goresan kata-kata yang diukir melalui ujung sepatunya waktu itu. Malihe bimbang. Akankah ia meninggalkan Majid sebatang kara dan kembali menyusuri Iran bersama Mahdi dan Shaba? Karena sebagai istri yang berbakti, hal itu bertentangan dengan hati nuraninya untuk selalu mendampingi sang suami dalam suka maupun duka. Akankah mereka berkumpul kembali?
Manije Armin mengemas cerita ini secara ringkas dan cukup menarik. Namun ada satu hal yang saya rasa menjadi kekurangan. Yaitu minimnya deskripsi, sehingga pembaca tidak mendapat gambaran secara utuh perihal setting atau latar belakang dan budaya dari novel ini. Padahal novel ini berlatarkan negeri Iran dan Turki yang sudah tentu sangat berbeda dengan Indonesia. Mungkin hal ini pulalah yang menjadikan novel ini tak terlalu tebal. Selebihnya, novel ini cukup menarik untuk dibaca.

Salam Inspirasi,
-Maryam Diyah-
Koordinator Divisi Resensi

Resensi: Best Seller Sejak Cetakan Pertama


Judul : Best Seller Sejak Cetakan Pertama
Penulis : Agus M. Irkham
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Genre : Buku Literasi
Pembaca : Para praktisi dunia perbukuan Indonesia
Nilai : 5/5 (Versi Komunitas Baca Buku)


Buku apa yang menjelaskan seluk beluk dunia perbukuan Indonesia? Pasti banyak orang yang akan menggelengkan kepala ketika kita membahas buku yang menjelaskan dunia perbukuan Indonesia. Tidak heran banyak dari kita tidak terlalu tahu perkembangan buku Indonesia, karena memang kita minim pengetahuan buku.

Lahir dari kegetiran inilah penulis akhirnya melahirkan buku ini. Sebuah buku yang akan membantuk kita mengenal lebih jauh dunia perbukuan Indonesia. Buku ini adalah buku literasi tentang bagaimana seseorang menjadi penulis best seller, buku-buku apa saja yang menjadi best seller dan bagaimana perkembangan dunia literasi di Indonesia.

Buku ini terdiri dari tiga bagian penting tentang dunia literasi di Indonesia. Bagian pertama “Dunia Kecil yang Begitu Indah” membahas banyak hal tentang perkembangan perbukuan Indonesia dari dulu hingga sekarang. Penulis mencoba mengeksplorasi lebih lanjut dunia perbukuan secara detil.

Dari bagian satu kita akan menemukan fakta-fakta yang mengejutkan dari sebuah buku. Misalnya saja tentang buku best seller di Indonesia. Kalau anda berpikir buku best seller di Indonesia adalah buku Laskar Pelangi atau Ayat-Ayat Cinta maka semua itu adalah salah. Dari hasil data yang ditemukannya di lapangan, buku yang terlaris di Indonesia salah satunya adalah Kamus Bahasa Inggris (Indonesia-Inggris) karya John M.Echlos dan Hasan Sadily.

Terbukti setiap tahun buku kamus ini selalu laris di pasaran dan mengalami cetak ulang pada setiap tahunnya. Bayangkan buku yang sudah dibuat tahun 1975 ini masih saja beredar di pasaran saat ini. Bahkan bajakannyapun laris terjual setiap tahunnya di Kwitang.

Ada lagi buku yang tidak pernah mengalami kesurutan dalam penjualan, yaitu buku-buku doa dan tuntunan sholat. Penerbitnya hingga saat ini selalu menerbitkan buku-buku tersebut, bahkan ada beberapa penerbit yang sudah puluhan tahun tidak pernah mengganti cover bukunya hingga saat ini. Tidak percaya, tengok saja buku-buku tuntunan sholat yang ada di masjid-masjid, kita pasti akan tercengang menemukan beberapa buku yang terlihat di masjid pernah kita beli pada saat kita kecil.

Nah itu adalah sebagian kecil dari bagian I, sekarang bagaimana dengan bagian II? Bagian dua diberi head line oleh penulis mata baru komunitas literasi. Nah pada bagian ini kita akan mengetahui beberapa komunitas literasi yang ada di Indonesia beserta sepak terjangnya dari yang bermula kecil-kecilan hingga sekarang menjadi besar, tidak lupa suka dukanya membangun komunitas. Nah bagian inilah yang menginspirasi saya membuat Komunitas Baca Buku seperti yang sobat nikmati saat ini.

Itulah isi dari bagian kedua, sekarang bagaimana dengan bagian terakhir? Bagian terakhir atau penutup adalah bagian yang tidak kalah penting untuk kita lebih mengetahui lebih dalam perbukuan Indonesia. Headline pada bagian III-pun dibuat seram, dengan mengambil judul “Bahaya Bangsa Tanpa Minat Baca Buku.” Dalam bab ini kita akan menemukan fakta-fakta menarik tentang seberapa besar minat baca di Indonesia. Hmm sobat KBB pasti sudah tahu bab ini, karena memang minat baca buku Indonesia tidak sebaik bila di bandingkan negara lain. Buktinya anggota KBB hanya seribuan orang, hehehe…. Padahal bila dibandingkan komunitas lain semisal musik jumlahnya bisa sampai diatas lima ribuan, bukan begitu sobat?

***
Kesimpulannya buku ini adalah buku yang wajib, kudu dibaca oleh kita sebagai panduan untuk melihat dunia literasi di Indonesia. Dan saya tidak akan banyak berkomentar dengan buku ini karena memang isinya sangat baik dan gaya bahasanya menarik. Jadi sobat KBB sepertinya akan sangat sayang bila harus melewatkan buku ini….
***
Tentang penulis, hmmm…. Penulis adalah salah satu orang penting dalam dunia literasi di Indonesia, karena memang sudah beragam buku dihasilkan oleh tangan dinginnya. Ia adalah Agus M. Irkham atau biasa dipanggil Gus Ir. Ia adalah seorang penulis yang mengikuti beragam Komunitas khususnya Komunitas Literasi dari mulai FLP sampai dengan KOKKANG.

Dengan beragam pengalaman inilah ia mengetahui dengan jelas seluk beluk dunia literasi di Indonesia, alhasil buku ini bisa kita nikmati sebagai sarapan besar untuk mengetahui dunia literasi di Indonesia.

Nah bagi yang mau berkenalan gak usah khawatir, saya punya linknya untuk sobat KBB, jadi kalau mau kenal lebih dekat bisa langsung ngobrol dengan beliau. Linknya bisa dilihat dibawah ya….


Ok sekian resensi buku kali ini….

Salam Inspirasi


Irawan Senda
Founder and CEO Komunitas Baca Buku, Author Living Like a Puzzle, Founder and Owner Business Speed and Ghost Writer.

Resensi: 168 Jam Dalam Sandera


Judul Buku : 168 Jam Dalam Sandera
Penulis : Meutya Hafid
Penerbit : Hikmah
Jenis Buku : Memoar
Pembaca : Semua Kalangan
Nilai : (4/5) versi KBB



Halo Sobat KBB,

Anda tentunya masih ingat sebuah peristiwa pada awal tahun 2005, pasca terjadinya Tsunami Aceh. Negeri kita dibuat gempar oleh sebuah peristiwa penculikan yang dialami oleh reporter kita dari Metro TV yang bernama Meutya Hafid yang di sandera di Irak karena dicurigai telah menjadi mata-mata pasukan koalisi Amerika yang kala itu memang memicu kerusuhan dalam pemilu pertama di Irak setelah jatuhnya kekuasaan Saddam Hussein. Buku ini menceritakan pengalaman sang tersandera yaitu Meutya Hafid bersama rekannya Budiyono selama dalam penyanderaan di Irak.

Cerita dimulai sekembalinya Meutya dari Aceh, meliput bencana Tsunami. Ia bersama rekannya Budiyono langsung ditugaskan meliput suasana pemilu pertama Irak setelah jatuhnya kekuasaan Saddam Hussein. Negeri Irak yang kala itu benar-benar menyedihkan, menjadi medan yang sangat berat untuk Meutya dan Budiyono dalam menjalankan tugas mereka. Bagdad yang hancur, berantakan, dan mencekam. Jalan-jalan dipenuhi tank-tank militer dan hampir di setiap sudut dijumpai tentara dengan senjata siap meletus. Namun, setelah tugas yang penuh masa penantian panjang dan berliku itu terlaksana dengan baik dan mereka siap untuk kembali ke tanah air, tiba-tiba mereka mesti kembali masuk ke Irak untuk meliput peringatan Asyura di Karbala. Meski sempat didera keraguan, namun akhirnya mereka menyanggupi. Dalam perjalanan mereka yang kedua itulah, peristiwa penculikan itu terjadi.

Ketika mobil mereka berhenti pada sebuah pom bensin, beberapa orang pasukan Mujahidin dengan wajah tertutup Kafiyeh, menyergap mereka dan kemudian membawa mobil mereka termasuk sang sopir KBRI yang mereka sewa, Ibrahim. Mereka dibawa ke sebuah gurun, dimana hanya ada padang pasir yang terhampar luas sejauh mata memandang. Maka tak ada jalan lain bagi Meutya dan Budi, kecuali mengikuti para penyandera. Tak mungkin mereka melarikan diri kecuali ingin mati konyol.
Mereka pun dibawa dalam sebuah gua kecil yang terdapat di gurun.
Hampir setiap malam, bunyi pesawat berseliweran di atas mereka benar-benar menciptakan ketegangan, karena ternyata, gua yang mereka diami, adalah wilayah antara Ramadi dan Fallujah, zona pertempuran antara gerilyawan Irak dan tentara koalisi. Dan itu berarti, jika pertempuran pecah, gua itu akan jadi sasaran empuk berondongan peluru dari kedua sisi berlawanan.

Meski begitu, perlakuan yang mereka terima selama dalam masa penyanderaan, sangat jauh dari kata mengerikan atau sadis. Bersama para penyandera yang ternyata sangat bersahabat, yang bernama Ahmad dan Muhammad, dan Ibrahim sang sopir sekaligus penerjemah mereka, mereka bagaikan sahabat. Saling menceritakan dan berbagi pengalaman seputar diri, pekerjaan dan bahkan keluarga, membuat mereka merasa akrab satu sama lain. Kebersamaan mereka dari hari ke hari nyatanya telah menciptakan suatu ikatan batin diantara mereka. Selama beberapa hari itu, mereka pun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh rasa hormat layaknya tamu. Makanan-makanan dan air setiap hari diantar dalam jumlah yang cukup dan menu-menu yang menggiurkan pula, mesti para Mujahidin lain yang bertugas mengantar makanan-makanan itu mempertaruhkan nyawanya dalam perjalanan menuju gua. Sungguh pelayanan yang mengharukan.

Pembebasan yang berliku-liku pun mesti dilewati dengan penuh kesabaran dan ketegangan. Banyak sekali peristiwa yang rasanya membuat nyawa mereka serasa sudah diujung tanduk, namun secara mengejutkan, ternyata mereka bisa bertahan melewati itu semua.

Buku ini benar-benar memberi pelajaran pada kita, bahwa setiap pekerjaan, memang mempunyai resiko yang kadang memang menantang. Namun kita pun harus mengukur seberapa besar kesiapan kita, dan sampai dimana seharusnya kita melangkah atau berhenti ketika telah diambang batas kemampuan kita. Bukannya maju membabi buta tanpa mengukur kemampuan diri atau hanya bermodalkan nekat. Meutya dan rekannya Budiyono, nampaknya telah mengambil pelajaran yang teramat berharga dimana mereka dipaksa melihat batas dimana mereka harus berhenti, atau terus maju.
Buku ini pun mengajak kita untuk merenungi, pada saat manusia berada dalam keputusasaan dan merasa tak akan melihat matahari esok pagi, ternyata jika Tuhan mempunyai rencana lain, maka apapun menjadi mungkin. Dan hanya atas kekuasaannya, Meutya dan Budiyono, bisa keluar dengan selamat dan sehat walafiat dari Irak yang penuh ancaman.
Tidak hanya penuh dengan ketegangan pada setiap halamannya, buku ini pun kadang mengajak kita tersenyum, tertawa, dan bahkan menitikkan airmata.


Salam Inspirasi.

-Maryam Diyah-
Koordinator Divisi Resensi

Resensi : It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be


Judul Buku : It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be
Penulis : Paul Arden
Penerbit : Phaidon
Genre : Non Fiction
Pembaca : Kalangan Bisnis dan Pelaku Advertising Nilai : 5/5 (Versi Komunitas Baca Buku)



“Fiuh, lama tidak mereview karena sakit, kali ini saya akan mereview buku yang sangat bagus dan pantas untuk sobat KBB baca.”

Buku It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be adalah buku pertama dari Paul Arden. Buku ke duanya Whatever You Think, Think The Opposite sudah pernah kita bahas di discussion board KBB.

Buku It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be menceritakan tentang buah pemikiran Arden tentang ide dalam bekerja, hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan ide-ide cemerlang apa saja yang harus kita tampilkan. Tidak hanya itu ia menggunakan pola-pola terbalik untuk menciptakan sebuah pemikiran dan ide tentang bagaimana kita menjalankan sebuah pekerjaan.

Salah satu kata-kata yang saya suka dalam buku ini adalah “It’s Right To Be Wrong.” Yah dalam hidup ini kita tidak mungkin tidak melakukan kesalahan, justru dengan semakin banyak kesalahan kita jadi tahu mana yang benar. Jadi tidak ada salahnya melakukan sesuatu yang salah. Bukan begitu?....

Yang unik dari buku ini tentu saja foto-foto yang tersaji dan terpampang di dalamnya. Buku ini di desain dengan kekuatan art yang tinggi, yup setiap pesan akan terkoneksikan dengan foto ataupun gambar, sehingga buku ini bisa dibilang penuh dengan kekuatan foto.

Di Indonesia versi terjemahannya belum ada, namun untuk buku keduanya yang berjudul Whatever You Think, Think The Opposite sudah diedarkan oleh Essensi (lini buku dari Erlangga Group), meski sayangnya buku-bukunya sudah mulai sulit didapatkan.

***

Actually, buku ini sangat bagus dan saya rekomendasikan buat sobat KBB. Meski kalau membeli buku harus pesan lewat Amazon.com dulu, namun isi dari buku ini sangat tidak mengecewakan. Harga bukunyapun hanya $ 8.95 saja, so gak mahal lah untuk sebuah buku yang berkualitas dan layak menjadi koleksi.

Ssst sebagai gambaran buku ini sudah mengalami delapan kali cetakan sejak terbit tahun 2003 lho, dan itu untuk wilayah America saja. Sebagai gambaran di America sekali cetak buku akan dicetak sebanyak 100 ribu copy, artinya sudah delapan ratus ribu copy buku terjual di America saja, nck…nck… menarik bukan?

Salam Inspirasi


Irawan Senda
Founder dan Chairman Komunitas Baca Buku
Penulis Living Like a Puzzle

Resensi : Negeri Van Oranje


Judul Buku : Negeri Van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana

Pembaca : Semua Kalangan

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Bentang Pustaka
Penilaian : 4/5 (versi KBB)

Ini salah satu buku yang baru selesai aku baca minggu lalu. Novel ini cocok menjadi panduan bagi siapa saja yang ingin mengenyam pendidikan di negeri Kincir Angin, Belanda.

Novel ini mengisahkan persahabatan dan liku-liku kehidupan lima mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Mereka adalah Iskandar alias Banjar asal Kalimantan Selatan, Firdaus Muthoyib anak Asli Betawi, Wicak Adi Gumelar yang seorang pegawai di salah satu LSM berasal dari Banten, Garibaldi Utama Anugrah Atmaja alias Geri, makhluk ganteng yang bisa menurunkan pasaran cowok Indonesia di Belanda dan terakhir Anandita Lintang Persada, seorang perempuan tinggi semampai yang berwajah cantik.

Mereka berlima di pertemukan di stasiun kereta Amersfort pada saat terjebak badai yang membuat semua perjalanan kereta terhenti selama beberapa jam. Diawali oleh rokok kretek dan diselingi dengan curhat panjang awal mula mereka terdampar di negeri Kincir Angin ini. Sejak saat itu mereka mendeklarasikan diri mereka sebagai Aagaban (Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands).

Selain menceritakan bagaimana kegigihan Banjar mencari pekerjaan demi mengumpulkan beberapa Euro untuk bertahan hidup demi menjawab tantangan dari Goz sahabatnya, Lintang yang menyambi sebagai guru tari di KBRI setelah mendapat tawaran langsung dari Dubes Indonesia untuk Belanda dan terobsesi untuk menikah dengan Bule, Geri yang tidak pernah bermasalah dalam hal keuangan tetapi mempunyai masalah dalam perjalanan asmara nya yang tidak lazim, Daus yang selalu gagal untuk mencoba hal-hal yang berbau dosa serta Wicak yang sukses membawa tesisnya menjadi salah satu dari 10 nominasi tesis terbaik. Novel ini juga turut menyertakan beberapa tips dan trik ala Aagaban untuk bertahan hidup dan info2 menarik yg bisa di dapat di Belanda. Mulai dari kiat merokok, seputar belanja, bersosialisasi, kegiatan2 yg bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang, event2 menarik, kiat seputar sepeda dan pernak perniknya, kiat jitu jadi pelajar teladan, kiat menghadapi birokrasi, tips mencari rumah atau kamar di Belanda, sampai dengan tips ber backpacking keliling Eropa.

Satu cerita dengan empat penulis yang menyajikan gaya penulisan yang sama dan bahasa yang mudah dicerna, menjadikan novel ini layak di baca.
Launching dan diskusi novel ini telah dilaksanakan pada tanggal 1 Mei kemarin bertempat di FAB cafe toko buku Gramedia Grand Indonesia, Jakarta dengan menghadirkan dua dari empat penulisnya, yaitu Wahyuningrat dan Adept Widiarsa.


Salam Inspirasi


Widyanti Aguslina