Resensi: Aku Terlahir 500gr Dan Buta



Judul : Aku Terlahir 500gr Dan Buta
Penulis : Miyuki Inoue
Jenis Buku : True story
Penerbit : Elex Media Komputindo
Pembaca : Semua kalangan
Nilai : (4/5)



Miyuki Inoue, bayi prematur yang divonis hanya hidup hingga dua sampai tiga hari lagi oleh sang dokter, nyatanya mampu bertahan hingga kini beranjak dewasa. Terlahir dengan berat 500gram, dengan kelima jari sebesar korek api, kepala sebesar telur, dan pinggul sebesar jari kelingking orang dewasa, membuat ibunya tak pernah bisa menahan cucuran airmata tatkala menjaganya di rumah sakit.
Ketika beberapa minggu kemudian Miyuki Inoue kecil divonis buta, hati sang ibu semakin hancur berkeping-keping. Namun wanita yang tegar itu, bersumpah akan terus berjuang agar Miyuki tetap hidup. Ia telah kehilangan laki-laki yang dicintainya ketika mengandung karena sebuah kecelakaan, dan ia tak ingin anak itu pun ikut pergi bersama ayahnya.

Buku ini menceritakan drama kehidupan antara ibu dan anak yang saling mengisi dan saling melengkapi. Bagaimana sang ibu mendidik anaknya, Miyuki, dengan sangat keras. Sehingga sang anak kadang dengan marah menjulukinya dengan sebutan ‘ibu setan’.
Bukan tanpa sengaja sang ibu berlaku seperti itu. Ia hanya ingin menempa sang anak menjadi manusia yang kuat dan tegar. Ia ingin anaknya menjadi seperti gadis normal lainnnya dan mendapat kebahagiaan.
Ketika suatu hari Miyuki belajar menaiki sepeda, sang ibu hanya mengawasi dari kejauhan. Airmatanya menetes tatkala sang anak terjatuh dengan lutut berdarah-darah. Namun tak disongsongnya Miyuki meskipun sangat ingin, melainkan dibiarkannya saja ia mengatasi itu sendiri. Hingga Miyuki berhasil menaiki kembali sepedanya dan terjatuh sebanyak 30 kali sebelum berhasil.
Pun ketika suatu hari Miyuki terjatuh dari tangga, sang ibu hanya berkata, “salah sendiri”. Bukan karena sang ibu tak peduli, justru ia ingin mendidik anaknya agar tak mengulangi kesalahan yang sama jikalau sudah merasakan bagaimana sakitnya.
Tak jarang Miyuki merasakan sakit hati oleh ucapan ibunya. Namun akhirnya Miyuki mengerti, semua yang dilakukan ibunya semata-mata karena rasa sayang sang ibu padanya. Terlebih lagi ketika suatu hari ibunya menceritakan masa lalu beliau yang kelam.

Miyuki, gadis dengan keinginan yang kuat dan penuh semangat. Kebutaan sama sekali tak menghalanginya. Apa yang ingin dikuasainya, pasti akan terus dipelajari dan dicobanya sampai berhasil, meski perlu usaha 10 kali lipat lebih sulit dan lebih lama dari orang normal.
Kini ia telah banyak meraih prestasi. Diantaranya juara mengarang tingkat nasional Jepang dengan karyanya yang berjudul Air Mata Ibu & Diriku Dalam Genggaman. Semua itu berkat kerja keras dan dukungan ibu yang mengasihinya.


Salam,

-Maryam Diyah-
Koordinator Divisi Resensi

Resensi: Fatimeh Goes To Cairo


Judul Buku: Fatimeh Goes to Cairo
Pengarang: Achoer
Penerbit: Dar! Mizan
Jenis Buku: Komedi Islami
Pembaca: semua kalangan
Nilai: (4/5)


Halo sobat KBB,

Minggu ini saya akan meresensikan sebuah buku yang agak berbeda dari biasanya.
Yaitu buku yang menceritakan sebuah kisah gokil seorang mahasiswa Kairo asal Indonesia yang bernama Arif. Suatu ketika, gadis pujaannya sewaktu di pondok pesantren dulu, yang bernama Fatimeh, kabarnya akan datang ke Kairo mengikuti rombongan adik-adik kelas sebagai salah satu angkatan baru. Arif yang memang menaruh hati pada Fatimeh, sengaja mendaftar untuk menjadi anggota panitia pendaftaran anak-anak baru. Agar bisa menjemput Fatimeh, saat di bandara. Cinta lama pun bersemi kembali. Tepatnya cinta Arif yang bersemi kembali terhadap Fatimeh, Fatimehnya sih nggak begitu.
Karena begitu cintanya ia pada Fatimeh, namun orangtuanya melarang ia untuk pacaran, maka timbullah niat dalam hatinya untuk melamar sang gadis pujaan. Berkirim suratlah ia pada orangtuanya di Indonesia(itu adalah surat terpanjang sekaligus surat terkocak yang pernah saya baca). Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, meskipun surat telah ditulis sepanjang Tembok Besar Cina, namun apa daya, sang orangtua tidak menyetujuinya untuk menikah, dengan alasan, Arif belum menyelesaikan kuliahnya. Sebagai anak yang berbakti, maka Arif pun tak bisa menentang keinginan orangtuanya.
Namun tak berapa lama kemudian, orangtuanya malah menjodohkannya dengan seorang gadis, namun sayangnya gadis itu menampiknya malah sebelum bertemu muka dengan Arif. Maka senanglah Arif, karena bisa kembali menambatkan cita dan cintanya pada Fatimeh.
Arif yang telah mendapatkan restu orangtua untuk segera menikah, melamar Fatimeh. Lamaran pun diterima, dan dimulailah kehidupan rumah tangga mereka yang banyak dihiasi dengan adegan-adegan eksyen, seperti lempar piring, lempar gayung, lempar lemari(gak tahu bener apa nggak), dan lempar-lempar yang lainnya di saat mereka saling beradu pendapat. Meski kadang sang suami banyak mengalami benjol-benjol pada jidatnya, namun kehidupan rumah tangga mereka tetap berjalan harmonis. Fatimeh, istri yang meski kadang manjanya gak ketulungan, namun bisa menerima segala kekurangan Arif yang seperti tak ada habisnya itu.

Novel ini menceritakan kehidupan mereka sebagai pasangan muda dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Bagaimana sulitnya mengatasi kesulitan demi kesulitan. Misalnya saja, kesulitan keuangan, kesulitan dalam masak-memasak, sampai masalah dimana Arif divonis infertil oleh dokter! Rumah tangga mereka pun sempat goyah. Namun Arif yang sabar, berhasil membujuk Fatimeh yang merajuk karena sang suami tak dapat memberikanya anak. Berbagai usaha dilakukan untuk memperoleh keturunan. Akankah upaya mereka membuahkan hasil?

Novel berl-setting Cairo ini rasanya cocok bagi pasangan muda yang masih labil dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Namun novel ini juga bisa menjadi obat penyembuh apabila anda sedang mengalami penyakit ‘sulit tertawa’.


salam inspirasi

-Maryam Diyah-
Koordinator divisi resensi

Resensi: The Heavenly Couple


Judul Buku : The Heavenly Couple
Penulis : Manije Armin
Penerbit : Pustaka IIMaN
Jenis Buku : Based On True Story
Pembaca : Semua Kalangan
Nilai : (3/4)

Halo Sobat KBB,

“Seorang gadis masuk rumah suaminya dengan pakaian pengantin dan harus keluar dari sana dengan kain kafan.” Itulah kata-kata ibunya yang selalu diingat Malihe bahkan ketika ia berikrar pada hari pernikahannya. Dan kemudian kesetian dan kesabarannya sebagai seorang istri benar-benar teruji. Majid, suaminya, adalah laki-laki yang melibatkan dirinya dengan kelompok ekstrem sebelum menikah. Meski telah bertobat, imbasnya Majid kini sulit mencari pekerjaan karena telah dicap berbahaya. Situasi panas pasca perang (revolusi) memang tak kenal ampun terhadap orang yang terlanjur dicap ekstrem meski orang itu telah lepas tangan. Maka berangkatlah Majid, Malihe, serta kedua orang anak mereka yaitu Mahdi dan Shaba ke perbatasan Iran, untuk menyelundup ke Turki dan kemudian terbang ke luar negeri demi mendapatkan hidup yang tenang dan terlepas dari bayang-bayang masa lalu Majid yang kelam. Sesampai di Turki, tinggallah mereka dalam sebuah penginapan milik Nyonya Golin dan Akram Afandi, seorang nyonya baik hati dan tuan yang temperamental. Mereka mempekerjakan Majid yang pandai melukis, untuk menjual lukisan wajah para tamu-tamu yang datang dan hasil dibagi dua dengan Akram Afandi. Sementara hampir setiap hari Malihe pergi ke kantor imigrasi untuk mendapatkan Visa agar mereka bisa pergi ke luar negeri, namun tak pernah berhasil. Keberadaan Majid tercium oleh polisi. Majid pun kabur dengan dibawa pergi oleh seorang pelayan restoran yang bekerja di resto milik Akram Afandi bernama Hanif. Majid di bawa ke sebuah tempat tertutup yang di sebut Taman Surga, tempat yang sangat indah. Ia ditempatkan dalam satu tempat berisikan orang-orang yang kesemuanya berpakaian hijau dan tak pernah bicara, karena untuk mereka, bicara adalah aib. Mereka semua adalah seniman yang bertugas melukis Kurshid Pasha, yaitu seorang yang menganggap dirinya setengah dewa. Kuas-kuas dan kanvas mahal tersedia. Namun Majid bingung, tempat apakah itu? Sementara Malihe dan anak-anaknya, terus mencari Majid yang tak jua diketemukan. Hanif menemukan mereka dan langsung membawa mereka ke hotel Pasha, yaitu hotel mewah bagi orang-orang kaya. Hanif bilang, yang membiayai mereka adalah Majid. Namun setiap kali Malihe menanyakan Majid, yang keluar sebagai jawaban adalah, bahwa Majid sedang bekerja dan mereka baru bisa bertemu dengan Majid setelah Majid merampungkam kerjanya. Suatu kali, Malihe minta dengan sangat kepada Hanif agar dirinya dipertemukan dengan Majid. Maka Hanif pun mengatur pertemuan itu di depan masjid Aya Sofia. Dalam pertemuan itu, Malihe bertemu dengan Majid yang telah berubah drastis. Sinar di mata Majid meredup dan berat tubuhnya terlihat menyusut banyak. Malihe merasa ada sesuatu yang tak beres dengan suaminya. Namun Malihe tak tahu apa dan tak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi ketika Majid menyuruh Malihe pulang ke Iran lewat goresan kata-kata yang diukir melalui ujung sepatunya waktu itu. Malihe bimbang. Akankah ia meninggalkan Majid sebatang kara dan kembali menyusuri Iran bersama Mahdi dan Shaba? Karena sebagai istri yang berbakti, hal itu bertentangan dengan hati nuraninya untuk selalu mendampingi sang suami dalam suka maupun duka. Akankah mereka berkumpul kembali?
Manije Armin mengemas cerita ini secara ringkas dan cukup menarik. Namun ada satu hal yang saya rasa menjadi kekurangan. Yaitu minimnya deskripsi, sehingga pembaca tidak mendapat gambaran secara utuh perihal setting atau latar belakang dan budaya dari novel ini. Padahal novel ini berlatarkan negeri Iran dan Turki yang sudah tentu sangat berbeda dengan Indonesia. Mungkin hal ini pulalah yang menjadikan novel ini tak terlalu tebal. Selebihnya, novel ini cukup menarik untuk dibaca.

Salam Inspirasi,
-Maryam Diyah-
Koordinator Divisi Resensi

Resensi: Best Seller Sejak Cetakan Pertama


Judul : Best Seller Sejak Cetakan Pertama
Penulis : Agus M. Irkham
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Genre : Buku Literasi
Pembaca : Para praktisi dunia perbukuan Indonesia
Nilai : 5/5 (Versi Komunitas Baca Buku)


Buku apa yang menjelaskan seluk beluk dunia perbukuan Indonesia? Pasti banyak orang yang akan menggelengkan kepala ketika kita membahas buku yang menjelaskan dunia perbukuan Indonesia. Tidak heran banyak dari kita tidak terlalu tahu perkembangan buku Indonesia, karena memang kita minim pengetahuan buku.

Lahir dari kegetiran inilah penulis akhirnya melahirkan buku ini. Sebuah buku yang akan membantuk kita mengenal lebih jauh dunia perbukuan Indonesia. Buku ini adalah buku literasi tentang bagaimana seseorang menjadi penulis best seller, buku-buku apa saja yang menjadi best seller dan bagaimana perkembangan dunia literasi di Indonesia.

Buku ini terdiri dari tiga bagian penting tentang dunia literasi di Indonesia. Bagian pertama “Dunia Kecil yang Begitu Indah” membahas banyak hal tentang perkembangan perbukuan Indonesia dari dulu hingga sekarang. Penulis mencoba mengeksplorasi lebih lanjut dunia perbukuan secara detil.

Dari bagian satu kita akan menemukan fakta-fakta yang mengejutkan dari sebuah buku. Misalnya saja tentang buku best seller di Indonesia. Kalau anda berpikir buku best seller di Indonesia adalah buku Laskar Pelangi atau Ayat-Ayat Cinta maka semua itu adalah salah. Dari hasil data yang ditemukannya di lapangan, buku yang terlaris di Indonesia salah satunya adalah Kamus Bahasa Inggris (Indonesia-Inggris) karya John M.Echlos dan Hasan Sadily.

Terbukti setiap tahun buku kamus ini selalu laris di pasaran dan mengalami cetak ulang pada setiap tahunnya. Bayangkan buku yang sudah dibuat tahun 1975 ini masih saja beredar di pasaran saat ini. Bahkan bajakannyapun laris terjual setiap tahunnya di Kwitang.

Ada lagi buku yang tidak pernah mengalami kesurutan dalam penjualan, yaitu buku-buku doa dan tuntunan sholat. Penerbitnya hingga saat ini selalu menerbitkan buku-buku tersebut, bahkan ada beberapa penerbit yang sudah puluhan tahun tidak pernah mengganti cover bukunya hingga saat ini. Tidak percaya, tengok saja buku-buku tuntunan sholat yang ada di masjid-masjid, kita pasti akan tercengang menemukan beberapa buku yang terlihat di masjid pernah kita beli pada saat kita kecil.

Nah itu adalah sebagian kecil dari bagian I, sekarang bagaimana dengan bagian II? Bagian dua diberi head line oleh penulis mata baru komunitas literasi. Nah pada bagian ini kita akan mengetahui beberapa komunitas literasi yang ada di Indonesia beserta sepak terjangnya dari yang bermula kecil-kecilan hingga sekarang menjadi besar, tidak lupa suka dukanya membangun komunitas. Nah bagian inilah yang menginspirasi saya membuat Komunitas Baca Buku seperti yang sobat nikmati saat ini.

Itulah isi dari bagian kedua, sekarang bagaimana dengan bagian terakhir? Bagian terakhir atau penutup adalah bagian yang tidak kalah penting untuk kita lebih mengetahui lebih dalam perbukuan Indonesia. Headline pada bagian III-pun dibuat seram, dengan mengambil judul “Bahaya Bangsa Tanpa Minat Baca Buku.” Dalam bab ini kita akan menemukan fakta-fakta menarik tentang seberapa besar minat baca di Indonesia. Hmm sobat KBB pasti sudah tahu bab ini, karena memang minat baca buku Indonesia tidak sebaik bila di bandingkan negara lain. Buktinya anggota KBB hanya seribuan orang, hehehe…. Padahal bila dibandingkan komunitas lain semisal musik jumlahnya bisa sampai diatas lima ribuan, bukan begitu sobat?

***
Kesimpulannya buku ini adalah buku yang wajib, kudu dibaca oleh kita sebagai panduan untuk melihat dunia literasi di Indonesia. Dan saya tidak akan banyak berkomentar dengan buku ini karena memang isinya sangat baik dan gaya bahasanya menarik. Jadi sobat KBB sepertinya akan sangat sayang bila harus melewatkan buku ini….
***
Tentang penulis, hmmm…. Penulis adalah salah satu orang penting dalam dunia literasi di Indonesia, karena memang sudah beragam buku dihasilkan oleh tangan dinginnya. Ia adalah Agus M. Irkham atau biasa dipanggil Gus Ir. Ia adalah seorang penulis yang mengikuti beragam Komunitas khususnya Komunitas Literasi dari mulai FLP sampai dengan KOKKANG.

Dengan beragam pengalaman inilah ia mengetahui dengan jelas seluk beluk dunia literasi di Indonesia, alhasil buku ini bisa kita nikmati sebagai sarapan besar untuk mengetahui dunia literasi di Indonesia.

Nah bagi yang mau berkenalan gak usah khawatir, saya punya linknya untuk sobat KBB, jadi kalau mau kenal lebih dekat bisa langsung ngobrol dengan beliau. Linknya bisa dilihat dibawah ya….


Ok sekian resensi buku kali ini….

Salam Inspirasi


Irawan Senda
Founder and CEO Komunitas Baca Buku, Author Living Like a Puzzle, Founder and Owner Business Speed and Ghost Writer.

Resensi: 168 Jam Dalam Sandera


Judul Buku : 168 Jam Dalam Sandera
Penulis : Meutya Hafid
Penerbit : Hikmah
Jenis Buku : Memoar
Pembaca : Semua Kalangan
Nilai : (4/5) versi KBB



Halo Sobat KBB,

Anda tentunya masih ingat sebuah peristiwa pada awal tahun 2005, pasca terjadinya Tsunami Aceh. Negeri kita dibuat gempar oleh sebuah peristiwa penculikan yang dialami oleh reporter kita dari Metro TV yang bernama Meutya Hafid yang di sandera di Irak karena dicurigai telah menjadi mata-mata pasukan koalisi Amerika yang kala itu memang memicu kerusuhan dalam pemilu pertama di Irak setelah jatuhnya kekuasaan Saddam Hussein. Buku ini menceritakan pengalaman sang tersandera yaitu Meutya Hafid bersama rekannya Budiyono selama dalam penyanderaan di Irak.

Cerita dimulai sekembalinya Meutya dari Aceh, meliput bencana Tsunami. Ia bersama rekannya Budiyono langsung ditugaskan meliput suasana pemilu pertama Irak setelah jatuhnya kekuasaan Saddam Hussein. Negeri Irak yang kala itu benar-benar menyedihkan, menjadi medan yang sangat berat untuk Meutya dan Budiyono dalam menjalankan tugas mereka. Bagdad yang hancur, berantakan, dan mencekam. Jalan-jalan dipenuhi tank-tank militer dan hampir di setiap sudut dijumpai tentara dengan senjata siap meletus. Namun, setelah tugas yang penuh masa penantian panjang dan berliku itu terlaksana dengan baik dan mereka siap untuk kembali ke tanah air, tiba-tiba mereka mesti kembali masuk ke Irak untuk meliput peringatan Asyura di Karbala. Meski sempat didera keraguan, namun akhirnya mereka menyanggupi. Dalam perjalanan mereka yang kedua itulah, peristiwa penculikan itu terjadi.

Ketika mobil mereka berhenti pada sebuah pom bensin, beberapa orang pasukan Mujahidin dengan wajah tertutup Kafiyeh, menyergap mereka dan kemudian membawa mobil mereka termasuk sang sopir KBRI yang mereka sewa, Ibrahim. Mereka dibawa ke sebuah gurun, dimana hanya ada padang pasir yang terhampar luas sejauh mata memandang. Maka tak ada jalan lain bagi Meutya dan Budi, kecuali mengikuti para penyandera. Tak mungkin mereka melarikan diri kecuali ingin mati konyol.
Mereka pun dibawa dalam sebuah gua kecil yang terdapat di gurun.
Hampir setiap malam, bunyi pesawat berseliweran di atas mereka benar-benar menciptakan ketegangan, karena ternyata, gua yang mereka diami, adalah wilayah antara Ramadi dan Fallujah, zona pertempuran antara gerilyawan Irak dan tentara koalisi. Dan itu berarti, jika pertempuran pecah, gua itu akan jadi sasaran empuk berondongan peluru dari kedua sisi berlawanan.

Meski begitu, perlakuan yang mereka terima selama dalam masa penyanderaan, sangat jauh dari kata mengerikan atau sadis. Bersama para penyandera yang ternyata sangat bersahabat, yang bernama Ahmad dan Muhammad, dan Ibrahim sang sopir sekaligus penerjemah mereka, mereka bagaikan sahabat. Saling menceritakan dan berbagi pengalaman seputar diri, pekerjaan dan bahkan keluarga, membuat mereka merasa akrab satu sama lain. Kebersamaan mereka dari hari ke hari nyatanya telah menciptakan suatu ikatan batin diantara mereka. Selama beberapa hari itu, mereka pun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh rasa hormat layaknya tamu. Makanan-makanan dan air setiap hari diantar dalam jumlah yang cukup dan menu-menu yang menggiurkan pula, mesti para Mujahidin lain yang bertugas mengantar makanan-makanan itu mempertaruhkan nyawanya dalam perjalanan menuju gua. Sungguh pelayanan yang mengharukan.

Pembebasan yang berliku-liku pun mesti dilewati dengan penuh kesabaran dan ketegangan. Banyak sekali peristiwa yang rasanya membuat nyawa mereka serasa sudah diujung tanduk, namun secara mengejutkan, ternyata mereka bisa bertahan melewati itu semua.

Buku ini benar-benar memberi pelajaran pada kita, bahwa setiap pekerjaan, memang mempunyai resiko yang kadang memang menantang. Namun kita pun harus mengukur seberapa besar kesiapan kita, dan sampai dimana seharusnya kita melangkah atau berhenti ketika telah diambang batas kemampuan kita. Bukannya maju membabi buta tanpa mengukur kemampuan diri atau hanya bermodalkan nekat. Meutya dan rekannya Budiyono, nampaknya telah mengambil pelajaran yang teramat berharga dimana mereka dipaksa melihat batas dimana mereka harus berhenti, atau terus maju.
Buku ini pun mengajak kita untuk merenungi, pada saat manusia berada dalam keputusasaan dan merasa tak akan melihat matahari esok pagi, ternyata jika Tuhan mempunyai rencana lain, maka apapun menjadi mungkin. Dan hanya atas kekuasaannya, Meutya dan Budiyono, bisa keluar dengan selamat dan sehat walafiat dari Irak yang penuh ancaman.
Tidak hanya penuh dengan ketegangan pada setiap halamannya, buku ini pun kadang mengajak kita tersenyum, tertawa, dan bahkan menitikkan airmata.


Salam Inspirasi.

-Maryam Diyah-
Koordinator Divisi Resensi

Resensi : It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be


Judul Buku : It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be
Penulis : Paul Arden
Penerbit : Phaidon
Genre : Non Fiction
Pembaca : Kalangan Bisnis dan Pelaku Advertising Nilai : 5/5 (Versi Komunitas Baca Buku)



“Fiuh, lama tidak mereview karena sakit, kali ini saya akan mereview buku yang sangat bagus dan pantas untuk sobat KBB baca.”

Buku It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be adalah buku pertama dari Paul Arden. Buku ke duanya Whatever You Think, Think The Opposite sudah pernah kita bahas di discussion board KBB.

Buku It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be menceritakan tentang buah pemikiran Arden tentang ide dalam bekerja, hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan ide-ide cemerlang apa saja yang harus kita tampilkan. Tidak hanya itu ia menggunakan pola-pola terbalik untuk menciptakan sebuah pemikiran dan ide tentang bagaimana kita menjalankan sebuah pekerjaan.

Salah satu kata-kata yang saya suka dalam buku ini adalah “It’s Right To Be Wrong.” Yah dalam hidup ini kita tidak mungkin tidak melakukan kesalahan, justru dengan semakin banyak kesalahan kita jadi tahu mana yang benar. Jadi tidak ada salahnya melakukan sesuatu yang salah. Bukan begitu?....

Yang unik dari buku ini tentu saja foto-foto yang tersaji dan terpampang di dalamnya. Buku ini di desain dengan kekuatan art yang tinggi, yup setiap pesan akan terkoneksikan dengan foto ataupun gambar, sehingga buku ini bisa dibilang penuh dengan kekuatan foto.

Di Indonesia versi terjemahannya belum ada, namun untuk buku keduanya yang berjudul Whatever You Think, Think The Opposite sudah diedarkan oleh Essensi (lini buku dari Erlangga Group), meski sayangnya buku-bukunya sudah mulai sulit didapatkan.

***

Actually, buku ini sangat bagus dan saya rekomendasikan buat sobat KBB. Meski kalau membeli buku harus pesan lewat Amazon.com dulu, namun isi dari buku ini sangat tidak mengecewakan. Harga bukunyapun hanya $ 8.95 saja, so gak mahal lah untuk sebuah buku yang berkualitas dan layak menjadi koleksi.

Ssst sebagai gambaran buku ini sudah mengalami delapan kali cetakan sejak terbit tahun 2003 lho, dan itu untuk wilayah America saja. Sebagai gambaran di America sekali cetak buku akan dicetak sebanyak 100 ribu copy, artinya sudah delapan ratus ribu copy buku terjual di America saja, nck…nck… menarik bukan?

Salam Inspirasi


Irawan Senda
Founder dan Chairman Komunitas Baca Buku
Penulis Living Like a Puzzle

Resensi : Negeri Van Oranje


Judul Buku : Negeri Van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana

Pembaca : Semua Kalangan

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Bentang Pustaka
Penilaian : 4/5 (versi KBB)

Ini salah satu buku yang baru selesai aku baca minggu lalu. Novel ini cocok menjadi panduan bagi siapa saja yang ingin mengenyam pendidikan di negeri Kincir Angin, Belanda.

Novel ini mengisahkan persahabatan dan liku-liku kehidupan lima mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Mereka adalah Iskandar alias Banjar asal Kalimantan Selatan, Firdaus Muthoyib anak Asli Betawi, Wicak Adi Gumelar yang seorang pegawai di salah satu LSM berasal dari Banten, Garibaldi Utama Anugrah Atmaja alias Geri, makhluk ganteng yang bisa menurunkan pasaran cowok Indonesia di Belanda dan terakhir Anandita Lintang Persada, seorang perempuan tinggi semampai yang berwajah cantik.

Mereka berlima di pertemukan di stasiun kereta Amersfort pada saat terjebak badai yang membuat semua perjalanan kereta terhenti selama beberapa jam. Diawali oleh rokok kretek dan diselingi dengan curhat panjang awal mula mereka terdampar di negeri Kincir Angin ini. Sejak saat itu mereka mendeklarasikan diri mereka sebagai Aagaban (Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands).

Selain menceritakan bagaimana kegigihan Banjar mencari pekerjaan demi mengumpulkan beberapa Euro untuk bertahan hidup demi menjawab tantangan dari Goz sahabatnya, Lintang yang menyambi sebagai guru tari di KBRI setelah mendapat tawaran langsung dari Dubes Indonesia untuk Belanda dan terobsesi untuk menikah dengan Bule, Geri yang tidak pernah bermasalah dalam hal keuangan tetapi mempunyai masalah dalam perjalanan asmara nya yang tidak lazim, Daus yang selalu gagal untuk mencoba hal-hal yang berbau dosa serta Wicak yang sukses membawa tesisnya menjadi salah satu dari 10 nominasi tesis terbaik. Novel ini juga turut menyertakan beberapa tips dan trik ala Aagaban untuk bertahan hidup dan info2 menarik yg bisa di dapat di Belanda. Mulai dari kiat merokok, seputar belanja, bersosialisasi, kegiatan2 yg bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang, event2 menarik, kiat seputar sepeda dan pernak perniknya, kiat jitu jadi pelajar teladan, kiat menghadapi birokrasi, tips mencari rumah atau kamar di Belanda, sampai dengan tips ber backpacking keliling Eropa.

Satu cerita dengan empat penulis yang menyajikan gaya penulisan yang sama dan bahasa yang mudah dicerna, menjadikan novel ini layak di baca.
Launching dan diskusi novel ini telah dilaksanakan pada tanggal 1 Mei kemarin bertempat di FAB cafe toko buku Gramedia Grand Indonesia, Jakarta dengan menghadirkan dua dari empat penulisnya, yaitu Wahyuningrat dan Adept Widiarsa.


Salam Inspirasi


Widyanti Aguslina